Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Penelitian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penelitian. Tampilkan semua postingan
10.23
Oleh
Yhunika Lutvi Marisha1 dan Sutama2
1Mahasiswa Pendidikan Matematika FKIP UMS,yhunika.marisha@gmail.com
2Staf Pengajar UMS Surakarta, sutama_mpd@yahoo.com
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan komunikasi dan hasil belajar matematika bagi siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Kartasura dengan strategi pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran matematika. Penelitian menggunakan penelitian tindakan kelas. Sumber data guru dan siswa. Teknik pengumpulan data observasi, tes, catatan lapangan dan dokumentasi. Data
dianalisis secara komparatif dan interaktif. Keabsahan data dengan triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian, pertama penerapan strategi pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan komunikasi dan hasil belajar matematika siswa kelas VIIIE SMP Negeri 2 Kartasura. Kedua peningkatan komunikasi belajar matematika yaitu (a) siswa yang mampu menyatakan ide matematika dari kondisi awal 9,1% siklus I 31,45% dan siklus II 73,6%, (b) siswa yang mampu menggambarkan ide ke dalam model matematika dari kondisi awal 6,1% siklus I 36,2% siklus II 79,6%, (c) siswa yang mampu menuliskan ide matematika dalam bentuk visual dari kondisi awal 18,2% siklus I 50,35% siklus II 83,1%, dan (d) siswa yang mampu menjelaskan konsep matematika dari kondisi awal 9,1% siklus I 33,05% siklus II 70,1%. Ketiga peningkatan hasil belajar matematika dari
kondisi awal 35,71%, siklus I 61,3% siklus II 76,7%.
Kata Kunci: komunikasi, hasil belajar, kontekstual
Selengkapnya silahkan download: Klik Disini
PENINGKATAN KOMUNIKASI DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN STRATEGI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL BAGI SISWA SMP
Written By Sutama on Selasa, 29 Januari 2013 | 10.23
Oleh
Yhunika Lutvi Marisha1 dan Sutama2
1Mahasiswa Pendidikan Matematika FKIP UMS,yhunika.marisha@gmail.com
2Staf Pengajar UMS Surakarta, sutama_mpd@yahoo.com
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan komunikasi dan hasil belajar matematika bagi siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Kartasura dengan strategi pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran matematika. Penelitian menggunakan penelitian tindakan kelas. Sumber data guru dan siswa. Teknik pengumpulan data observasi, tes, catatan lapangan dan dokumentasi. Data
dianalisis secara komparatif dan interaktif. Keabsahan data dengan triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian, pertama penerapan strategi pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan komunikasi dan hasil belajar matematika siswa kelas VIIIE SMP Negeri 2 Kartasura. Kedua peningkatan komunikasi belajar matematika yaitu (a) siswa yang mampu menyatakan ide matematika dari kondisi awal 9,1% siklus I 31,45% dan siklus II 73,6%, (b) siswa yang mampu menggambarkan ide ke dalam model matematika dari kondisi awal 6,1% siklus I 36,2% siklus II 79,6%, (c) siswa yang mampu menuliskan ide matematika dalam bentuk visual dari kondisi awal 18,2% siklus I 50,35% siklus II 83,1%, dan (d) siswa yang mampu menjelaskan konsep matematika dari kondisi awal 9,1% siklus I 33,05% siklus II 70,1%. Ketiga peningkatan hasil belajar matematika dari
kondisi awal 35,71%, siklus I 61,3% siklus II 76,7%.
Kata Kunci: komunikasi, hasil belajar, kontekstual
Selengkapnya silahkan download: Klik Disini
Label:
Makalah,
Penelitian,
Penelitian Tindakan
10.16
Oleh: Farida Yuliati
Guru SLB B YPALB Karanganyar
E-Mail: farida_421@yahoo.co.id
Abstrak
Tujuan penelitian ini untuk meningkatan penguasaan konsep bilangan bagi anak tunarungu kelas 1 SLB – B melalui permainan dhakon. Subyek penenlitian 4 siswa kelas 1 SLB – B YPALB Karanganyar. Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas. Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Validitas data menggunakan trianggulasi sumber dan metode. Analisis data deskriptif kualitatif. Hasil penelitian siklus 1,
Terdapat perubahan nilai hampir pada setiap anak. Perubahan nilai satu angka terjadi pada 3 orang anak. Perubahan nilai dua angka terjadi pada 1 orang anak.
Rata-rata nilai anak 6, sehingga berada pada rentang 40%<P≤60% dengan kategori pencapaian indikator kinerja cukup. Meskipun mengalami kenaikan nilai, tetapi masih ada 1 anak yang nilainya dibawah 6 (KKM). Pada siklus 2 terdapat perubahan nilai pada setiap anak. Perubahan nilai satu terjadi pada 2 anak. Perubahan nilai dua angka terjadi pada 3 anak. Tidak ada nilai dibawah 6
(KKM). Rata-rata nilai anak 7,5 sehingga berada pada rentang 60%<P≤80% dengan kategori pencapaian indikator kinerja tinggi. Pada siklus kedua kenaikan nilai sudah sesuai indikator kinerja yang ditetapkan 60%<P≤80% atau ‘tinggi’. Kesimpulan penelitian, ada peningkatan penguasaan konsep bilangan bagi siswa kelas I SLB-B YPALB Karanganyar setelah dilakukan tindakan melalui
permainan dhakon.
Kata kunci : Konsep bilangan, anak tunarungu, permainan, dhakon
Selengkapnya silahkan download: Klik Disini
MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP BILANGAN PADA ANAK TUNARUNGU MELALUI PERMAINAN DHAKON
Oleh: Farida Yuliati
Guru SLB B YPALB Karanganyar
E-Mail: farida_421@yahoo.co.id
Abstrak
Tujuan penelitian ini untuk meningkatan penguasaan konsep bilangan bagi anak tunarungu kelas 1 SLB – B melalui permainan dhakon. Subyek penenlitian 4 siswa kelas 1 SLB – B YPALB Karanganyar. Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas. Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Validitas data menggunakan trianggulasi sumber dan metode. Analisis data deskriptif kualitatif. Hasil penelitian siklus 1,
Terdapat perubahan nilai hampir pada setiap anak. Perubahan nilai satu angka terjadi pada 3 orang anak. Perubahan nilai dua angka terjadi pada 1 orang anak.
Rata-rata nilai anak 6, sehingga berada pada rentang 40%<P≤60% dengan kategori pencapaian indikator kinerja cukup. Meskipun mengalami kenaikan nilai, tetapi masih ada 1 anak yang nilainya dibawah 6 (KKM). Pada siklus 2 terdapat perubahan nilai pada setiap anak. Perubahan nilai satu terjadi pada 2 anak. Perubahan nilai dua angka terjadi pada 3 anak. Tidak ada nilai dibawah 6
(KKM). Rata-rata nilai anak 7,5 sehingga berada pada rentang 60%<P≤80% dengan kategori pencapaian indikator kinerja tinggi. Pada siklus kedua kenaikan nilai sudah sesuai indikator kinerja yang ditetapkan 60%<P≤80% atau ‘tinggi’. Kesimpulan penelitian, ada peningkatan penguasaan konsep bilangan bagi siswa kelas I SLB-B YPALB Karanganyar setelah dilakukan tindakan melalui
permainan dhakon.
Kata kunci : Konsep bilangan, anak tunarungu, permainan, dhakon
Selengkapnya silahkan download: Klik Disini
Label:
Makalah,
Penelitian,
Penelitian Tindakan
09.54
Oleh:
Rosidah Aliim Hidayat
Pendidikan Guru Sekolah Dasar UST
Jl. Batikan,Tuntungan UH III/1043 Umbulharjo Telp.(0274) 7009648 Yogyakarta
55167Rosidahaliim@yahoo.co.id
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterampilan guru SD bersertifikat pendidik dalam (1) perencanaan pembelajaran matematika, (2) pelaksanaan pembelajaran matematika, dan (3) evaluasi. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan desain etnografi; subyek penelitian kepala sekolah, guru dan siswa di SD N Cemara 2 Surakarta tahun 2011/2012; teknik pengumpulan data, metode wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi; teknik analisis data, model alur; keabsahan data, triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian, (1) keterampilan guru dalam perencanaan menyusun indikator sesuai dengan taraf perkembangan siswa hanya saja motivasi dan minat siswa kurang diperhatikan oleh guru. Pemberian materi dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Dalam pembelajaran materi konsep, siswa diajak aktif agar mampu memperoleh konsep materi yang diajarkan. Guru menyesuaikan metode dengan karakteristik siswa (menggunakan permainan). Penilaian dideskripsikan mulai dari awal sampai akhir, hal tersebut disebabkan orangtua selalu memantau perkembangan anaknya, (2) keterampilan guru dalam pelaksanaan pembelajaran dengan cara menyiapkan peralatan yang akan digunakan di kelas. Pengajuan pertanyaan dalam apersepsi kurang menantang. Kurang mengaitkan materi dengan pengetahuan lain yang masih relevan. Wakil salah satu siswa maju membuat rangkuman belajar dengan mengaitkan kehidupan sehari-hari, dan (3) keterampilan guru dalam evaluasi mampu memahami hasil belajar masing-masing siswa, baik afektif dan psikomotorik serta kognitif.
Kata Kunci: keterampilan, sertifikat, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi.
Selengkapnya silahkan download: Klik Disini
KETERAMPILAN GURU BERSERTIFIKAT PENDIDIK DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
KETERAMPILAN GURU BERSERTIFIKAT PENDIDIK DALAM
PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SD NEGERI CEMARA 2
SURAKARTA
PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SD NEGERI CEMARA 2
SURAKARTA
Oleh:
Rosidah Aliim Hidayat
Pendidikan Guru Sekolah Dasar UST
Jl. Batikan,Tuntungan UH III/1043 Umbulharjo Telp.(0274) 7009648 Yogyakarta
55167Rosidahaliim@yahoo.co.id
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterampilan guru SD bersertifikat pendidik dalam (1) perencanaan pembelajaran matematika, (2) pelaksanaan pembelajaran matematika, dan (3) evaluasi. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan desain etnografi; subyek penelitian kepala sekolah, guru dan siswa di SD N Cemara 2 Surakarta tahun 2011/2012; teknik pengumpulan data, metode wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi; teknik analisis data, model alur; keabsahan data, triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian, (1) keterampilan guru dalam perencanaan menyusun indikator sesuai dengan taraf perkembangan siswa hanya saja motivasi dan minat siswa kurang diperhatikan oleh guru. Pemberian materi dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Dalam pembelajaran materi konsep, siswa diajak aktif agar mampu memperoleh konsep materi yang diajarkan. Guru menyesuaikan metode dengan karakteristik siswa (menggunakan permainan). Penilaian dideskripsikan mulai dari awal sampai akhir, hal tersebut disebabkan orangtua selalu memantau perkembangan anaknya, (2) keterampilan guru dalam pelaksanaan pembelajaran dengan cara menyiapkan peralatan yang akan digunakan di kelas. Pengajuan pertanyaan dalam apersepsi kurang menantang. Kurang mengaitkan materi dengan pengetahuan lain yang masih relevan. Wakil salah satu siswa maju membuat rangkuman belajar dengan mengaitkan kehidupan sehari-hari, dan (3) keterampilan guru dalam evaluasi mampu memahami hasil belajar masing-masing siswa, baik afektif dan psikomotorik serta kognitif.
Kata Kunci: keterampilan, sertifikat, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi.
Selengkapnya silahkan download: Klik Disini
Label:
Makalah,
Penelitian,
Penelitian Tindakan
09.15
Katakunci: kontekstual, ruang, media, materi, interaksi, autentik.
Selengkapnya silahkan download: Klik Disini
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA KONTEKSTUAL
Oleh:
Sutama, Sabar Narimo, dan Haryoto
Magister Manajemen Pendisikan PPs UMS
Jl. A. Yani Pabelan, Kartasura, Telp. 0271 730772 Tromol Pos 1 Surakarta
Sutama_mpd@yahoo.com
Sutama, Sabar Narimo, dan Haryoto
Magister Manajemen Pendisikan PPs UMS
Jl. A. Yani Pabelan, Kartasura, Telp. 0271 730772 Tromol Pos 1 Surakarta
Sutama_mpd@yahoo.com
Abstrak
Penelitian tahun I, ditujukan untuk mendeskripsikan pembelajaran matematika yang dilakukan guru dan pengembangan pembelajaran matematika kontekstual di Sekolah Dasar pasca bencana erupsi Merapi Selo Boyolali Jawa Tengah. Penelitian ini secara keseluruhan menggunakan penelitian danpengembangan. Penelitian tahun I menggunakan pendekatan kualitatatif.
Informan kepala, guru, dan siswa. Teknik pengumpulan data, observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Teknik analisis data secara interaktif dengan metode alir. Keabsahan data, triangulasi metode dan sumber. Hasil Penelitian Pertama, Pembelajaran matematika yang dilakukan guru. Rencana pelaksanaan pembelajaran belum dibuat secara mandiri. Pengelolaan ruang model klasikal. Pengelolaan media visual. Pengelolaan materi ajar bersumber satu buku.
Pengelolaan interaksi, didominasi guru. Penilaian aspek kognitif. Kedua, Pengembangan pembelajaran matematika kontekstual. Rencana pelaksanaan pembelajaran dengan strategi kontekstual berdasar masalah dalam kelompok kecil melalui lima langkah kegiatan. Pengelolaan ruang di dalam kelas, setting ruang berubah secara siklus. Pengelolaan ruang di luar kelas, bebas sesuai tujuan pembelajaran. Pengelolaan media, visual dan proyeksi diam. Pengelolaan materi ajar, dikembangkan dari berbagai macam bahan ajar. Pengelolaan interaksi, berpusat pengalaman belajar siswa. Evaluasi pembelajaran, autentik berdasarkan semua aspek.
Penelitian tahun I, ditujukan untuk mendeskripsikan pembelajaran matematika yang dilakukan guru dan pengembangan pembelajaran matematika kontekstual di Sekolah Dasar pasca bencana erupsi Merapi Selo Boyolali Jawa Tengah. Penelitian ini secara keseluruhan menggunakan penelitian danpengembangan. Penelitian tahun I menggunakan pendekatan kualitatatif.
Informan kepala, guru, dan siswa. Teknik pengumpulan data, observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Teknik analisis data secara interaktif dengan metode alir. Keabsahan data, triangulasi metode dan sumber. Hasil Penelitian Pertama, Pembelajaran matematika yang dilakukan guru. Rencana pelaksanaan pembelajaran belum dibuat secara mandiri. Pengelolaan ruang model klasikal. Pengelolaan media visual. Pengelolaan materi ajar bersumber satu buku.
Pengelolaan interaksi, didominasi guru. Penilaian aspek kognitif. Kedua, Pengembangan pembelajaran matematika kontekstual. Rencana pelaksanaan pembelajaran dengan strategi kontekstual berdasar masalah dalam kelompok kecil melalui lima langkah kegiatan. Pengelolaan ruang di dalam kelas, setting ruang berubah secara siklus. Pengelolaan ruang di luar kelas, bebas sesuai tujuan pembelajaran. Pengelolaan media, visual dan proyeksi diam. Pengelolaan materi ajar, dikembangkan dari berbagai macam bahan ajar. Pengelolaan interaksi, berpusat pengalaman belajar siswa. Evaluasi pembelajaran, autentik berdasarkan semua aspek.
Katakunci: kontekstual, ruang, media, materi, interaksi, autentik.
Selengkapnya silahkan download: Klik Disini
Label:
Makalah,
Penelitian,
Penelitian Tindakan
01.26
Implementasi KTSP dan Model Pembelajaran
Written By Sutama on Kamis, 10 Januari 2013 | 01.26
Istilah implementasi memiliki banyak arti. Beauchamp (1975: 164) mengartikan implementasi kurikulum sebagai "a process of putting the curriculum to work". Berdasarkan pendapat tersebut, sesungguhnya, implementasi kurikulum merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk mewujudkan atau melaksanakan kurikulum (dalam arti rencana tertulis) ke dalam bentuk nyata di kelas, yaitu terjadinya proses transmisi dan transformasi segenap pengalaman belajar kepada peserta didik. Beberapa istilah yang bisa disepadankan dengan istilah implementasi kurikulum adalah pembelajaran atau pengajaran atau proses belajar mengajar.
Melalui pengertian yang demikian, implementasi kurikulum memiliki posisi yang sangat menentukan bagi keberhasilan kurikulum sebagai rencana tertulis. Hasan (2000: 1) mengatakan "… jika kurikulum dalam bentuk rencana tertulis dilaksanakan maka kurikulum dalam bentuk proses adalah realisasi atau implementasi dari kurikulum sebagai rencana tertulis". Bisa jadi, dua orang guru yang sama-sama mengimplementasikan sebuah kurikulum (misal, kurikulum mata pelajaran matematika) akan diterima atau dikuasai anak secara berbeda bukan karena isi atau aspek-aspek kurikulumnya yang berbeda, tetapi lebih disebabkan perbedaan dalam implementasi kurikulum yang diupayakan guru tersebut.
Begitu urgennya posisi implementasi bagi terwujud atau tidaknya sebuah kurikulum, sangatlah tepat manakala persoalan implementasi kurikulum merupakan persoalan esensial di kalangan pengembang dan pelaksana kurikulum. Terlebih lagi jika sistem persekolahan yang ada lebih menekankan dimensi proses dari pada hasil belajar. Oleh karena itu, agar implementasi kurikulum dapat terwujud sesuai dengan kurikulum sebagai rencana tertulis, disarankan Hasan (2000: 1) agar terlebih dahulu memahami secara tepat tentang filsafat dan teori yang digunakan.
Ditegaskan oleh Sukmadinata (1988: 218) dengan mengatakan bahwa implementasi kurikulum hampir seluruhnya tergantung pada kreativitas, kecakapan, kesungguhan, dan ketekunan guru. Bagaimana kaitannya dengan kegiatan pembelajaran dalam implementasi KTSP? Mengacu pada asumsi bahwa kurikulum dan pembelajaran memiliki kaitan yang erat dan saling menunjang maka pembahasan mengenai pembelajaran dalam konteks implementasi KTSP tentu tidak bisa dilepaskan dari karakteristik KTSP. Oleh karena itu, apabila KTSP memiliki karakteristik utama yaitu human competence dan mastery learning, tentu saja model pembelajarannya haruslah mencerminkan dan berbasis pada dua karakteristik tersebut.
Selanjutnya, model pembelajaran manakah yang relevan dengan KTSP? Puskur Balitbang Depdiknas (2002) mengajukan karakteristik model pembelajaran yang relevan digunakan untuk implementasi KTSP yaitu model-model pembelajaran yang mampu mengkondisikan peserta didik meraih atau memperoleh sejumlah pengalaman belajar yang berupa; pengetahuan, ketrampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Berkaitan dengan itu, Saylor, dkk. (1981: 279) mengajukan rambu-rambu model-model pembelajaran yang relevan untuk implementasi KTSP, yaitu; desain sistem instruksional, pembelajaran berprograma, dan model pembelajaran latihan dan dril (practice and drill). Sementara itu, jika dikaitkan dengan klasifikasi model pembelajaran yang dikemukakan Joyce dan Weils (1992) maka rumpun model pembelajaran “sistem perilaku” dipandang relevan untuk implementasi KTSP, yang meliputi; belajar tuntas, pembelajaran langsung, belajar kontrol diri, latihan pengembangan konsep dan ketrampilan, dan latihan asersif.
Banyak model pembelajaran yang diasumsikan relevan untuk implementasi KTSP. Dalam hal ini yang paling penting adalah “seberapa jauh model-model pembelajaran tersebut mampu memfasilitasi peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang mencerminkan penguasaan suatu kompetensi yang dituntut kurikulum ?”
Kadar proses pembelajaran diamati dari aspek, (a) Adanya keterlibatan siswa baik secara fisik, mental, emosional, maupun intelektual dalam proses pembelajaran. Hal ini diamati dari tingginya motivasi siswa untuk menyelesaikan setiap tugas sesuai dengan waktu yang ditentukan; (b) Siswa belajar secara langsung, yaitu konsep dan prinsip dipelajari melalui pengalaman nyata, seperti mengalami sendiri atau kerja sama dalam kelompok; (c) Adanya keinginan siswa untuk menciptakan iklim belajar yang kondusif; (d) Keterlibatan siswa dalam mencari dan memanfaatkan sumber belajar; (e) Adanya keterlibatan siswa dalam melakukan prakarsa, seperti menjawab dan mengajukan pertanyaan, berusaha memecahkan masalah (mengerjakan soal) selama proses pembelajaran; dan (f) Terjadi interaksi multi-arah (keterlibatan semua siswa secara merata).
Kadar evaluasi pembelajaran diamati dan diukur dari aspek, (a) keterlibatan siswa dalam mengerjakan tugas-tugas, (b) kemauan siswa untuk menyusun laporan hasil belajar yang diperolehnya, dan (c) ketuntasan prestasi belajar siswa.
Berdasarkan makna esensial yang dikemukakan di atas, pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study bertujuan untuk menciptakan dan mengembangkan suatu model yang betul-betul peduli dan memperhatikan keterkaitan antara kemampuan siswa dengan pengalaman belajar atau secara khas dengan strategi pembelajaran kontekstual. Untuk mencapai tujuan tersebut, pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study berupaya menemukan dan memilih sejumlah metode yang akan dijadikan sebagai perlakuan yang tepat, yaitu perlakuan yang sesuai dengan perbedaan kemampuan siswa. Kemudian melalui suatu interaksi yang bersifat multiplikatif dikembangkan perlakuan-perlakuan tersebut dalam pembelajaran, sehingga akhirnya dapat diciptakan optimalisasi prestasi akademik.
Pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study memiliki sejumlah manfaat di antaranya: (1) mengatasi kelemahan pada pembelajaran klasikal maupun individual, (2) membantu menjadikan materi yang abtrak dan sulit mendapatkan contoh di lingkungan sekolah menjadi lebih konkrit, (3) memungkinkan pengulangan sampai berkali-kali tanpa rasa malu bagi yang berbuat salah, (4) mendukung pembelajaran individual, (5) lebih mengenal dan terbiasa dengan kerja tim tutor sebaya, (6) merupakan media pembelajaran yang efektif, (7) menciptakan pembelajaran yang “enjoyment” atau “joyful learning”.
Berdasarkan prinsip-prinsip yang dikemukakan di atas, dapat dimengerti bahwa dalam mengimplementasikan pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study, masalah pengelompokan dan pengaturan lingkungan serta tugas-tugas belajar bagi masing-masing karakteristik kemampuan siswa merupakan masalah mendasar yang harus mendapat perhatian peneliti. Berkaitan dengan kontekstual merupakan strategi yang berisikan sejumlah metode pembelajaran, maka metode instruksional yang digunakan dalam strategi ini adalah inquiry learning, discovery learning, problem solving learning, dan research-oriented learning yang dikemas dalam model project.
Pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study ini dapat dipakai guru untuk meningkatkan pemahaman konsep dan prestasi akademik siswa, baik secara perorangan maupun kelompok. Pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study dipandang sebagai proses pembelajaran yang aktif, sebab siswa akan lebih banyak belajar melalui proses pembentukan (constructing) dan penciptaan, kerja dalam kelompok dan berbagi pengetahuan, serta tanggung jawab individu tetap merupakan kunci keberhasilan pembelajaran.
Asumsi yang digunakan sebagai acuan dalam pengembangan pembelajaran ini, yaitu (1) untuk meningkatkan pemahaman konsep dan prestasi akademik siswa dapat ditempuh melalui pengembangan proses kreatif menuju suatu kesadaran dan pengembangan alat bantu yang secara eksplisit mendukung kreativitas, (2) komponen emosional lebih penting daripada intelektual, yang tak rasional lebih penting daripada yang rasional, dan (3) untuk meningkatkan peluang keberhasilan dalam memecahkan suatu masalah harus lebih dahulu memahami komponen emosional dan irrasional.
Semoga bermanfaat.
Melalui pengertian yang demikian, implementasi kurikulum memiliki posisi yang sangat menentukan bagi keberhasilan kurikulum sebagai rencana tertulis. Hasan (2000: 1) mengatakan "… jika kurikulum dalam bentuk rencana tertulis dilaksanakan maka kurikulum dalam bentuk proses adalah realisasi atau implementasi dari kurikulum sebagai rencana tertulis". Bisa jadi, dua orang guru yang sama-sama mengimplementasikan sebuah kurikulum (misal, kurikulum mata pelajaran matematika) akan diterima atau dikuasai anak secara berbeda bukan karena isi atau aspek-aspek kurikulumnya yang berbeda, tetapi lebih disebabkan perbedaan dalam implementasi kurikulum yang diupayakan guru tersebut.
Begitu urgennya posisi implementasi bagi terwujud atau tidaknya sebuah kurikulum, sangatlah tepat manakala persoalan implementasi kurikulum merupakan persoalan esensial di kalangan pengembang dan pelaksana kurikulum. Terlebih lagi jika sistem persekolahan yang ada lebih menekankan dimensi proses dari pada hasil belajar. Oleh karena itu, agar implementasi kurikulum dapat terwujud sesuai dengan kurikulum sebagai rencana tertulis, disarankan Hasan (2000: 1) agar terlebih dahulu memahami secara tepat tentang filsafat dan teori yang digunakan.
Ditegaskan oleh Sukmadinata (1988: 218) dengan mengatakan bahwa implementasi kurikulum hampir seluruhnya tergantung pada kreativitas, kecakapan, kesungguhan, dan ketekunan guru. Bagaimana kaitannya dengan kegiatan pembelajaran dalam implementasi KTSP? Mengacu pada asumsi bahwa kurikulum dan pembelajaran memiliki kaitan yang erat dan saling menunjang maka pembahasan mengenai pembelajaran dalam konteks implementasi KTSP tentu tidak bisa dilepaskan dari karakteristik KTSP. Oleh karena itu, apabila KTSP memiliki karakteristik utama yaitu human competence dan mastery learning, tentu saja model pembelajarannya haruslah mencerminkan dan berbasis pada dua karakteristik tersebut.
Selanjutnya, model pembelajaran manakah yang relevan dengan KTSP? Puskur Balitbang Depdiknas (2002) mengajukan karakteristik model pembelajaran yang relevan digunakan untuk implementasi KTSP yaitu model-model pembelajaran yang mampu mengkondisikan peserta didik meraih atau memperoleh sejumlah pengalaman belajar yang berupa; pengetahuan, ketrampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Berkaitan dengan itu, Saylor, dkk. (1981: 279) mengajukan rambu-rambu model-model pembelajaran yang relevan untuk implementasi KTSP, yaitu; desain sistem instruksional, pembelajaran berprograma, dan model pembelajaran latihan dan dril (practice and drill). Sementara itu, jika dikaitkan dengan klasifikasi model pembelajaran yang dikemukakan Joyce dan Weils (1992) maka rumpun model pembelajaran “sistem perilaku” dipandang relevan untuk implementasi KTSP, yang meliputi; belajar tuntas, pembelajaran langsung, belajar kontrol diri, latihan pengembangan konsep dan ketrampilan, dan latihan asersif.
Banyak model pembelajaran yang diasumsikan relevan untuk implementasi KTSP. Dalam hal ini yang paling penting adalah “seberapa jauh model-model pembelajaran tersebut mampu memfasilitasi peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang mencerminkan penguasaan suatu kompetensi yang dituntut kurikulum ?”
Kadar proses pembelajaran diamati dari aspek, (a) Adanya keterlibatan siswa baik secara fisik, mental, emosional, maupun intelektual dalam proses pembelajaran. Hal ini diamati dari tingginya motivasi siswa untuk menyelesaikan setiap tugas sesuai dengan waktu yang ditentukan; (b) Siswa belajar secara langsung, yaitu konsep dan prinsip dipelajari melalui pengalaman nyata, seperti mengalami sendiri atau kerja sama dalam kelompok; (c) Adanya keinginan siswa untuk menciptakan iklim belajar yang kondusif; (d) Keterlibatan siswa dalam mencari dan memanfaatkan sumber belajar; (e) Adanya keterlibatan siswa dalam melakukan prakarsa, seperti menjawab dan mengajukan pertanyaan, berusaha memecahkan masalah (mengerjakan soal) selama proses pembelajaran; dan (f) Terjadi interaksi multi-arah (keterlibatan semua siswa secara merata).
Kadar evaluasi pembelajaran diamati dan diukur dari aspek, (a) keterlibatan siswa dalam mengerjakan tugas-tugas, (b) kemauan siswa untuk menyusun laporan hasil belajar yang diperolehnya, dan (c) ketuntasan prestasi belajar siswa.
Berdasarkan makna esensial yang dikemukakan di atas, pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study bertujuan untuk menciptakan dan mengembangkan suatu model yang betul-betul peduli dan memperhatikan keterkaitan antara kemampuan siswa dengan pengalaman belajar atau secara khas dengan strategi pembelajaran kontekstual. Untuk mencapai tujuan tersebut, pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study berupaya menemukan dan memilih sejumlah metode yang akan dijadikan sebagai perlakuan yang tepat, yaitu perlakuan yang sesuai dengan perbedaan kemampuan siswa. Kemudian melalui suatu interaksi yang bersifat multiplikatif dikembangkan perlakuan-perlakuan tersebut dalam pembelajaran, sehingga akhirnya dapat diciptakan optimalisasi prestasi akademik.
Pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study memiliki sejumlah manfaat di antaranya: (1) mengatasi kelemahan pada pembelajaran klasikal maupun individual, (2) membantu menjadikan materi yang abtrak dan sulit mendapatkan contoh di lingkungan sekolah menjadi lebih konkrit, (3) memungkinkan pengulangan sampai berkali-kali tanpa rasa malu bagi yang berbuat salah, (4) mendukung pembelajaran individual, (5) lebih mengenal dan terbiasa dengan kerja tim tutor sebaya, (6) merupakan media pembelajaran yang efektif, (7) menciptakan pembelajaran yang “enjoyment” atau “joyful learning”.
Berdasarkan prinsip-prinsip yang dikemukakan di atas, dapat dimengerti bahwa dalam mengimplementasikan pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study, masalah pengelompokan dan pengaturan lingkungan serta tugas-tugas belajar bagi masing-masing karakteristik kemampuan siswa merupakan masalah mendasar yang harus mendapat perhatian peneliti. Berkaitan dengan kontekstual merupakan strategi yang berisikan sejumlah metode pembelajaran, maka metode instruksional yang digunakan dalam strategi ini adalah inquiry learning, discovery learning, problem solving learning, dan research-oriented learning yang dikemas dalam model project.
Pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study ini dapat dipakai guru untuk meningkatkan pemahaman konsep dan prestasi akademik siswa, baik secara perorangan maupun kelompok. Pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study dipandang sebagai proses pembelajaran yang aktif, sebab siswa akan lebih banyak belajar melalui proses pembentukan (constructing) dan penciptaan, kerja dalam kelompok dan berbagi pengetahuan, serta tanggung jawab individu tetap merupakan kunci keberhasilan pembelajaran.
Asumsi yang digunakan sebagai acuan dalam pengembangan pembelajaran ini, yaitu (1) untuk meningkatkan pemahaman konsep dan prestasi akademik siswa dapat ditempuh melalui pengembangan proses kreatif menuju suatu kesadaran dan pengembangan alat bantu yang secara eksplisit mendukung kreativitas, (2) komponen emosional lebih penting daripada intelektual, yang tak rasional lebih penting daripada yang rasional, dan (3) untuk meningkatkan peluang keberhasilan dalam memecahkan suatu masalah harus lebih dahulu memahami komponen emosional dan irrasional.
Semoga bermanfaat.
01.22
Implementasi KTSP dan model pembelajaran
Istilah implementasi memiliki banyak arti. Beauchamp (1975: 164) mengartikan implementasi kurikulum sebagai "a process of putting the curriculum to work". Berdasarkan pendapat tersebut, sesungguhnya, implementasi kurikulum merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk mewujudkan atau melaksanakan kurikulum (dalam arti rencana tertulis) ke dalam bentuk nyata di kelas, yaitu terjadinya proses transmisi dan transformasi segenap pengalaman belajar kepada peserta didik. Beberapa istilah yang bisa disepadankan dengan istilah implementasi kurikulum adalah pembelajaran atau pengajaran atau proses belajar mengajar.
Melalui pengertian yang demikian, implementasi kurikulum memiliki posisi yang sangat menentukan bagi keberhasilan kurikulum sebagai rencana tertulis. Hasan (2000: 1) mengatakan "… jika kurikulum dalam bentuk rencana tertulis dilaksanakan maka kurikulum dalam bentuk proses adalah realisasi atau implementasi dari kurikulum sebagai rencana tertulis". Bisa jadi, dua orang guru yang sama-sama mengimplementasikan sebuah kurikulum (misal, kurikulum mata pelajaran matematika) akan diterima atau dikuasai anak secara berbeda bukan karena isi atau aspek-aspek kurikulumnya yang berbeda, tetapi lebih disebabkan perbedaan dalam implementasi kurikulum yang diupayakan guru tersebut.
Begitu urgennya posisi implementasi bagi terwujud atau tidaknya sebuah kurikulum, sangatlah tepat manakala persoalan implementasi kurikulum merupakan persoalan esensial di kalangan pengembang dan pelaksana kurikulum. Terlebih lagi jika sistem persekolahan yang ada lebih menekankan dimensi proses dari pada hasil belajar. Oleh karena itu, agar implementasi kurikulum dapat terwujud sesuai dengan kurikulum sebagai rencana tertulis, disarankan Hasan (2000: 1) agar terlebih dahulu memahami secara tepat tentang filsafat dan teori yang digunakan.
Ditegaskan oleh Sukmadinata (1988: 218) dengan mengatakan bahwa implementasi kurikulum hampir seluruhnya tergantung pada kreativitas, kecakapan, kesungguhan, dan ketekunan guru. Bagaimana kaitannya dengan kegiatan pembelajaran dalam implementasi KTSP? Mengacu pada asumsi bahwa kurikulum dan pembelajaran memiliki kaitan yang erat dan saling menunjang maka pembahasan mengenai pembelajaran dalam konteks implementasi KTSP tentu tidak bisa dilepaskan dari karakteristik KTSP. Oleh karena itu, apabila KTSP memiliki karakteristik utama yaitu human competence dan mastery learning, tentu saja model pembelajarannya haruslah mencerminkan dan berbasis pada dua karakteristik tersebut.
Selanjutnya, model pembelajaran manakah yang relevan dengan KTSP? Puskur Balitbang Depdiknas (2002) mengajukan karakteristik model pembelajaran yang relevan digunakan untuk implementasi KTSP yaitu model-model pembelajaran yang mampu mengkondisikan peserta didik meraih atau memperoleh sejumlah pengalaman belajar yang berupa; pengetahuan, ketrampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Berkaitan dengan itu, Saylor, dkk. (1981: 279) mengajukan rambu-rambu model-model pembelajaran yang relevan untuk implementasi KTSP, yaitu; desain sistem instruksional, pembelajaran berprograma, dan model pembelajaran latihan dan dril (practice and drill). Sementara itu, jika dikaitkan dengan klasifikasi model pembelajaran yang dikemukakan Joyce dan Weils (1992) maka rumpun model pembelajaran “sistem perilaku” dipandang relevan untuk implementasi KTSP, yang meliputi; belajar tuntas, pembelajaran langsung, belajar kontrol diri, latihan pengembangan konsep dan ketrampilan, dan latihan asersif.
Banyak model pembelajaran yang diasumsikan relevan untuk implementasi KTSP. Dalam hal ini yang paling penting adalah “seberapa jauh model-model pembelajaran tersebut mampu memfasilitasi peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang mencerminkan penguasaan suatu kompetensi yang dituntut kurikulum ?”
Melalui pengertian yang demikian, implementasi kurikulum memiliki posisi yang sangat menentukan bagi keberhasilan kurikulum sebagai rencana tertulis. Hasan (2000: 1) mengatakan "… jika kurikulum dalam bentuk rencana tertulis dilaksanakan maka kurikulum dalam bentuk proses adalah realisasi atau implementasi dari kurikulum sebagai rencana tertulis". Bisa jadi, dua orang guru yang sama-sama mengimplementasikan sebuah kurikulum (misal, kurikulum mata pelajaran matematika) akan diterima atau dikuasai anak secara berbeda bukan karena isi atau aspek-aspek kurikulumnya yang berbeda, tetapi lebih disebabkan perbedaan dalam implementasi kurikulum yang diupayakan guru tersebut.
Begitu urgennya posisi implementasi bagi terwujud atau tidaknya sebuah kurikulum, sangatlah tepat manakala persoalan implementasi kurikulum merupakan persoalan esensial di kalangan pengembang dan pelaksana kurikulum. Terlebih lagi jika sistem persekolahan yang ada lebih menekankan dimensi proses dari pada hasil belajar. Oleh karena itu, agar implementasi kurikulum dapat terwujud sesuai dengan kurikulum sebagai rencana tertulis, disarankan Hasan (2000: 1) agar terlebih dahulu memahami secara tepat tentang filsafat dan teori yang digunakan.
Ditegaskan oleh Sukmadinata (1988: 218) dengan mengatakan bahwa implementasi kurikulum hampir seluruhnya tergantung pada kreativitas, kecakapan, kesungguhan, dan ketekunan guru. Bagaimana kaitannya dengan kegiatan pembelajaran dalam implementasi KTSP? Mengacu pada asumsi bahwa kurikulum dan pembelajaran memiliki kaitan yang erat dan saling menunjang maka pembahasan mengenai pembelajaran dalam konteks implementasi KTSP tentu tidak bisa dilepaskan dari karakteristik KTSP. Oleh karena itu, apabila KTSP memiliki karakteristik utama yaitu human competence dan mastery learning, tentu saja model pembelajarannya haruslah mencerminkan dan berbasis pada dua karakteristik tersebut.
Selanjutnya, model pembelajaran manakah yang relevan dengan KTSP? Puskur Balitbang Depdiknas (2002) mengajukan karakteristik model pembelajaran yang relevan digunakan untuk implementasi KTSP yaitu model-model pembelajaran yang mampu mengkondisikan peserta didik meraih atau memperoleh sejumlah pengalaman belajar yang berupa; pengetahuan, ketrampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Berkaitan dengan itu, Saylor, dkk. (1981: 279) mengajukan rambu-rambu model-model pembelajaran yang relevan untuk implementasi KTSP, yaitu; desain sistem instruksional, pembelajaran berprograma, dan model pembelajaran latihan dan dril (practice and drill). Sementara itu, jika dikaitkan dengan klasifikasi model pembelajaran yang dikemukakan Joyce dan Weils (1992) maka rumpun model pembelajaran “sistem perilaku” dipandang relevan untuk implementasi KTSP, yang meliputi; belajar tuntas, pembelajaran langsung, belajar kontrol diri, latihan pengembangan konsep dan ketrampilan, dan latihan asersif.
Banyak model pembelajaran yang diasumsikan relevan untuk implementasi KTSP. Dalam hal ini yang paling penting adalah “seberapa jauh model-model pembelajaran tersebut mampu memfasilitasi peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang mencerminkan penguasaan suatu kompetensi yang dituntut kurikulum ?”
Label:
Penelitian,
Penelitian Tindakan
01.12
Contoh Sistematikan Penelitian Pengembangan Pembelajaran Matematika Konstektual Berbasis Lesson Study
Berikut saya berikan contoh pembuatan Sistematikan Penelitian dalam penulisan proposal penelitian tindakan matematika yang telah saya buat:
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA KONTEKSTUAL BERBASIS LESSON
STUDY DI SD PASCA BENCANA ERUPSI MERAPI SELO BOYOLALI JAWA TENGAH
Sistematikan Penelitian
Kegiatan penelitian dan pengembangan ini akan dilakukan dalam tiga tahun. Kegiatan tahun kesatu, studi pendahuluan dan penyusunan model secara konseptual, yang dirinci menjadi enam langkah. 1) Mengkajian teori-teori yang relevan, yaitu implementasi kurikulum dan pembelajaran, konsep kualitas pembelajaran, hakekat matematika, konsep stretegi pembelajaran kontekstual, dan konsep lesson study; 2) Menyusun instrumen penelitian, yaitu pedoman wawancara, pedoman observasi, dan pedoman analisis dokumentasi; 3) Melakukan survei pembelajaran di SD Selo Boyolali Jawa Tengah; 4) Focus Group Discussion (FGD) analisis hasil survei pemebelajaran di SD Selo Boyolali Jawa Tengah; 5) Workshop penyusunan buku strategi pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study,; dan 6) FGD me-review buku strategi pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study yang telah disusun.
Hasil survei pembelajaran pada tahap ini merupakan dasar untuk pengembangan pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study. Survei dilakukan di 10 SD pada 10 Desa Selo Boyolali Jawa Tengah pasca bencana erupsi merapi, melibatkan pengambil kebijakan, guru SD kelas IV dan V, dan ahli pendidikan matematika. Semua komponen ini terlibat dalam FGD untuk mempersiapkan konsep model yang akan dikembangkan. FGD juga dilakukan untuk mereview konsep yang telah dirancang.
Kegiatan tahun kedua, penyusunan model pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study secara konseptual, yang dirinci menjadi enam langkah. 1) Mengkajian teori-teori yang relevan, yaitu pengembangan silabus matematika SD, pengembangan materi ajar matematika SD, pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran, evaluasi pembelajaran, dan pengembangan bahan ajar matematika SD; 2) Menyusun instrumen penelitian, yaitu form pengembangan materi ajar matematika SD, form pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran, form instrumen evaluasi pembelajaran, dan form pengembangan bahan ajar matematika SD; 3) Workshop pengembangan materi ajar dan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran matematika kontekstual di SD, 4) Workshop penyusunan instrumen evaluasi pembelajaran dan penyusunan bahan ajar matematika kontekstual di SD; dan 6) FGD me-review model pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study yang telah disusun.
Kegiatan tahun ketiga, menganalisis dan menguji efektivitas pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study, yang dirinci menjadi sembilan langkah. 1) Menyusun instrumen penelitian, yaitu pedoman observasi pembelajaran, angket persepsi guru tentang pembelajaran, dan tes hasil belajar; 2) Workshop penerapan pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study; 3) Peer teaching pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study; 4) Ujicoba terbatas penerapan pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study, yaitu di empat SD pada empat Desa Selo Boyolali Jawa Tengah; 5) FGD analisis hasil uji coba pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study di SD Selo Jawa Tengah; 6) Eksperimen penerapan pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study, yaitu pada enam SD di enam Desa Selo Boyolali Jawa Tengah; 7) Workshop analisis hasil eksperimen pembelajaran yang dikembangkan; 8) FGD penyempurnaan pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study; dan 9) Desiminasi pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study.
Penentuan SD sebagai tempat penerapan model pembelajaran yang dikembangkan, baik untuk ujicoba maupun eksperimen pada 10 Desa di Selo dilakukan konsultasi dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Boyolali dan UPTD Selo. Penerapan model yang dikembangkan dan dampaknya dengan pendekatan penelitian tindakan kelas, eksperimen, dan korelasional.
Kegiatan penelitian dan pengembangan ini akan dilakukan dalam tiga tahun. Kegiatan tahun kesatu, studi pendahuluan dan penyusunan model secara konseptual, yang dirinci menjadi enam langkah. 1) Mengkajian teori-teori yang relevan, yaitu implementasi kurikulum dan pembelajaran, konsep kualitas pembelajaran, hakekat matematika, konsep stretegi pembelajaran kontekstual, dan konsep lesson study; 2) Menyusun instrumen penelitian, yaitu pedoman wawancara, pedoman observasi, dan pedoman analisis dokumentasi; 3) Melakukan survei pembelajaran di SD Selo Boyolali Jawa Tengah; 4) Focus Group Discussion (FGD) analisis hasil survei pemebelajaran di SD Selo Boyolali Jawa Tengah; 5) Workshop penyusunan buku strategi pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study,; dan 6) FGD me-review buku strategi pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study yang telah disusun.
Hasil survei pembelajaran pada tahap ini merupakan dasar untuk pengembangan pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study. Survei dilakukan di 10 SD pada 10 Desa Selo Boyolali Jawa Tengah pasca bencana erupsi merapi, melibatkan pengambil kebijakan, guru SD kelas IV dan V, dan ahli pendidikan matematika. Semua komponen ini terlibat dalam FGD untuk mempersiapkan konsep model yang akan dikembangkan. FGD juga dilakukan untuk mereview konsep yang telah dirancang.
Kegiatan tahun kedua, penyusunan model pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study secara konseptual, yang dirinci menjadi enam langkah. 1) Mengkajian teori-teori yang relevan, yaitu pengembangan silabus matematika SD, pengembangan materi ajar matematika SD, pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran, evaluasi pembelajaran, dan pengembangan bahan ajar matematika SD; 2) Menyusun instrumen penelitian, yaitu form pengembangan materi ajar matematika SD, form pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran, form instrumen evaluasi pembelajaran, dan form pengembangan bahan ajar matematika SD; 3) Workshop pengembangan materi ajar dan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran matematika kontekstual di SD, 4) Workshop penyusunan instrumen evaluasi pembelajaran dan penyusunan bahan ajar matematika kontekstual di SD; dan 6) FGD me-review model pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study yang telah disusun.
Kegiatan tahun ketiga, menganalisis dan menguji efektivitas pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study, yang dirinci menjadi sembilan langkah. 1) Menyusun instrumen penelitian, yaitu pedoman observasi pembelajaran, angket persepsi guru tentang pembelajaran, dan tes hasil belajar; 2) Workshop penerapan pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study; 3) Peer teaching pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study; 4) Ujicoba terbatas penerapan pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study, yaitu di empat SD pada empat Desa Selo Boyolali Jawa Tengah; 5) FGD analisis hasil uji coba pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study di SD Selo Jawa Tengah; 6) Eksperimen penerapan pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study, yaitu pada enam SD di enam Desa Selo Boyolali Jawa Tengah; 7) Workshop analisis hasil eksperimen pembelajaran yang dikembangkan; 8) FGD penyempurnaan pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study; dan 9) Desiminasi pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study.
Penentuan SD sebagai tempat penerapan model pembelajaran yang dikembangkan, baik untuk ujicoba maupun eksperimen pada 10 Desa di Selo dilakukan konsultasi dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Boyolali dan UPTD Selo. Penerapan model yang dikembangkan dan dampaknya dengan pendekatan penelitian tindakan kelas, eksperimen, dan korelasional.
Label:
Penelitian,
Penelitian Tindakan
01.03
Contoh Penulisan Roadmap Penelitian
Berikut saya berikan contoh pembuatan Roadmap Penelitian dalam penulisan proposal penelitian tindakan matematika yang telah saya buat:
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA KONTEKSTUAL BERBASIS LESSON
STUDY DI SD PASCA BENCANA ERUPSI MERAPI SELO BOYOLALI JAWA TENGAH
Roadmap Penelitian
Pembangunan pendidikan nasional ke depan didasarkan pada paradigma membangun manusia Indonesia seutuhnya, yang berfungsi sebagai subjek yang memiliki kapasitas untuk mengaktualisasikan potensi dan dimensi kemanusiaan secara optimal. Visi pendidikan nasional adalah, terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk pemberdayaan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia berkualitas sehingga mampu proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Untuk mewujudkan visi itu pada periode 2005-2009 Depdiknas memfokuskan pada tiga pilar pembangunan pendidikan, yakni: (1) pemerataan dan perluasan akses terhadap pendidikan, (2) peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing pendidikan, dan (3) penguatan tatakelola, akuntabilitas, dan pencitraan publik pendidikan.
Peningkatan mutu guru akan berdampak pada peningkatan mutu lulusan. Peningkatan mutu lulusan akan berdampak pada peningkatan mutu sumberdaya manusia (SDM) secara keseluruhan. Peningkatan SDM pada giliranya akan mewujudkan manusia yang berdaya dan mampu proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Dengan demikian, betapa pun kecilnya penelitian ini dapat memberikan sumbangan dalam pencapaian visi Nasional Indonesia.
Berbagai upaya telah dilakukan oleh peneliti terdahulu dan Departemen Pendidikan Nasional RI untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Kegiatan penelitian yang telah dilaksanakan peneliti dan peneliti terdahulu yang berkaitan dengan pengembangan kurikulum dan pemebelajaran disampaikan singkat di bawah.
Kegiatan penelitian yang telah dilaksanakan Sutama (peneliti), yaitu Pengelolaan Pembelajaran Matematika Sekolah Standar Nasional (2011), Pembelajaran Berbasis Aptitude Treatment Interaction untuk Peningkatan Motivasi belajar Matematika Bagi Siswa Kelas VIII (2010), Iklim Pembelajaran Matematika Bilingual Kelas IV (2009), Pengembangan Model Pembelajaran Matematika dengan Aptitude Treatment Interaction Berbasis Portofolio di SMP Kota Surakarta (2008), Evaluasi Penuntasan Wajib Belajar 9 Tahun di Kabupaten Klaten (2008), Model Pembelajaran Aptitude Treatment Interaction Berbasis Portofolio Untuk Peningkatan Pemahaman Konsep Pengantar Dasar Matematika (2007), Pengembangan Silabus Matematika KTSP SMA Muhammadiyah Kota Surakarta (2007), Evaluasi Pelaksanaan Desentralisasi Pendidikan Kabupaten Klaten (2007), Model Pembelajaran Berbasis Mencari Informasi dalam Mata Kuliah Inovasi Pendidikan Untuk Pembentukan Pola Hidup Mahasiswa (2007), Peningkatan Kemampuan Penalaran Siswa Belajar Matematika Melalui Pembelajaran Kooperatif di SMP Muhammadiyah 5 Surakarta (2006), Model Pembelajaran Matematika Sekolah Berprestasi dalam Peningkatan Mutu Hasil Belajar (2006), Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation Untuk Pengembangan Kreativitas Mahasiswa dalam Mata Kuliah Geometri Analitik Bidang (2006), Peningkatan Mutu Interaksi dalam Pembelajaran Matematika Melalui Pendekatan Belajar SAVI di SMP N 10 Surakarta (2005), Penerapan Task Involvement Sebagai Upaya Peningkatan Kemampuan Siswa Dalam Pemecahan Masalah Matematika (2004), Kesiapan Mental Siswa Kelas I SLTP dalam Pembelajaran Matematika (2003), dan Kemampuan Guru Matematika SMU dalam Memilih Buku Teks (2002).
Para peneliti terdahulu telah melakukan berbagai penelitian, khususnya yang terkait dengan pengembangan kurikulum dan pembelajaran. Model pengembangan pembelajaran yang dihasilkan sangat beragam. Model yang dikembangkan di antaranya dengan memanfaatkan: (1) accelerated learning (Suwarni, dkk, 2007), (2) E-learning (Juanda, 2007; Soekartawi, 2007; Hastjarjo dan Soekartawi, 2007; Hasibuan, 2007; Ali dan Ariadie Chandra Nugraha, 2007)), (3) teknologi informasi dan komunikasi (ICT) (Herwawan, 2007), (4) internet (Arifin dan Uwes A. Chaeruman, 2007).
Penelitian-penelitian untuk peningkatan pembelajaran juga telah dilakukan dengan pendekatan: (1) pengajuan dan pemecahan masalah (Siswono, 2007), (2) berbasis masalah (Herman, 2007), (3) contextual-teahing and learning (CTL) (Firdaus, dkk., 2007), (4) perubahan konseptual dan cooperative learning strategies (CLS) (Asikin, 2003), (5) pendekatan pembelajaran berkelompok dan Timbal balik (Iskandar, 2006), (6) pendekatan yang berorientasi pada Teori Van Hiele (Roebyanto, dkk., 2006), (7) penggunaan peta konsep (Anwar, 2006), dan (8) pembelajaran berbasis laboratorium (Martini, dkk., 2006).
Deskripsi penelitian yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa media yang dimanfaatkan untuk peningkatan kualitas pembelajaran sangat banyak. Demikian juga pendekatan yang digunakan untuk peningkatan kualitas pembelajaran juga sangat bervariasi. Namun, strategi pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study belum banyak dikerjakan oleh peneliti lain. Dengan begitu, penelitian ini akan melengkapi pendekatan yang digunakan dalam peningkatan kualitas pembelajaran, yang selanjutnya dapat meningkatkan mutu guru dan mutu pendidikan.
Pembangunan pendidikan nasional ke depan didasarkan pada paradigma membangun manusia Indonesia seutuhnya, yang berfungsi sebagai subjek yang memiliki kapasitas untuk mengaktualisasikan potensi dan dimensi kemanusiaan secara optimal. Visi pendidikan nasional adalah, terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk pemberdayaan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia berkualitas sehingga mampu proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Untuk mewujudkan visi itu pada periode 2005-2009 Depdiknas memfokuskan pada tiga pilar pembangunan pendidikan, yakni: (1) pemerataan dan perluasan akses terhadap pendidikan, (2) peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing pendidikan, dan (3) penguatan tatakelola, akuntabilitas, dan pencitraan publik pendidikan.
Peningkatan mutu guru akan berdampak pada peningkatan mutu lulusan. Peningkatan mutu lulusan akan berdampak pada peningkatan mutu sumberdaya manusia (SDM) secara keseluruhan. Peningkatan SDM pada giliranya akan mewujudkan manusia yang berdaya dan mampu proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Dengan demikian, betapa pun kecilnya penelitian ini dapat memberikan sumbangan dalam pencapaian visi Nasional Indonesia.
Berbagai upaya telah dilakukan oleh peneliti terdahulu dan Departemen Pendidikan Nasional RI untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Kegiatan penelitian yang telah dilaksanakan peneliti dan peneliti terdahulu yang berkaitan dengan pengembangan kurikulum dan pemebelajaran disampaikan singkat di bawah.
Kegiatan penelitian yang telah dilaksanakan Sutama (peneliti), yaitu Pengelolaan Pembelajaran Matematika Sekolah Standar Nasional (2011), Pembelajaran Berbasis Aptitude Treatment Interaction untuk Peningkatan Motivasi belajar Matematika Bagi Siswa Kelas VIII (2010), Iklim Pembelajaran Matematika Bilingual Kelas IV (2009), Pengembangan Model Pembelajaran Matematika dengan Aptitude Treatment Interaction Berbasis Portofolio di SMP Kota Surakarta (2008), Evaluasi Penuntasan Wajib Belajar 9 Tahun di Kabupaten Klaten (2008), Model Pembelajaran Aptitude Treatment Interaction Berbasis Portofolio Untuk Peningkatan Pemahaman Konsep Pengantar Dasar Matematika (2007), Pengembangan Silabus Matematika KTSP SMA Muhammadiyah Kota Surakarta (2007), Evaluasi Pelaksanaan Desentralisasi Pendidikan Kabupaten Klaten (2007), Model Pembelajaran Berbasis Mencari Informasi dalam Mata Kuliah Inovasi Pendidikan Untuk Pembentukan Pola Hidup Mahasiswa (2007), Peningkatan Kemampuan Penalaran Siswa Belajar Matematika Melalui Pembelajaran Kooperatif di SMP Muhammadiyah 5 Surakarta (2006), Model Pembelajaran Matematika Sekolah Berprestasi dalam Peningkatan Mutu Hasil Belajar (2006), Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation Untuk Pengembangan Kreativitas Mahasiswa dalam Mata Kuliah Geometri Analitik Bidang (2006), Peningkatan Mutu Interaksi dalam Pembelajaran Matematika Melalui Pendekatan Belajar SAVI di SMP N 10 Surakarta (2005), Penerapan Task Involvement Sebagai Upaya Peningkatan Kemampuan Siswa Dalam Pemecahan Masalah Matematika (2004), Kesiapan Mental Siswa Kelas I SLTP dalam Pembelajaran Matematika (2003), dan Kemampuan Guru Matematika SMU dalam Memilih Buku Teks (2002).
Para peneliti terdahulu telah melakukan berbagai penelitian, khususnya yang terkait dengan pengembangan kurikulum dan pembelajaran. Model pengembangan pembelajaran yang dihasilkan sangat beragam. Model yang dikembangkan di antaranya dengan memanfaatkan: (1) accelerated learning (Suwarni, dkk, 2007), (2) E-learning (Juanda, 2007; Soekartawi, 2007; Hastjarjo dan Soekartawi, 2007; Hasibuan, 2007; Ali dan Ariadie Chandra Nugraha, 2007)), (3) teknologi informasi dan komunikasi (ICT) (Herwawan, 2007), (4) internet (Arifin dan Uwes A. Chaeruman, 2007).
Penelitian-penelitian untuk peningkatan pembelajaran juga telah dilakukan dengan pendekatan: (1) pengajuan dan pemecahan masalah (Siswono, 2007), (2) berbasis masalah (Herman, 2007), (3) contextual-teahing and learning (CTL) (Firdaus, dkk., 2007), (4) perubahan konseptual dan cooperative learning strategies (CLS) (Asikin, 2003), (5) pendekatan pembelajaran berkelompok dan Timbal balik (Iskandar, 2006), (6) pendekatan yang berorientasi pada Teori Van Hiele (Roebyanto, dkk., 2006), (7) penggunaan peta konsep (Anwar, 2006), dan (8) pembelajaran berbasis laboratorium (Martini, dkk., 2006).
Deskripsi penelitian yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa media yang dimanfaatkan untuk peningkatan kualitas pembelajaran sangat banyak. Demikian juga pendekatan yang digunakan untuk peningkatan kualitas pembelajaran juga sangat bervariasi. Namun, strategi pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study belum banyak dikerjakan oleh peneliti lain. Dengan begitu, penelitian ini akan melengkapi pendekatan yang digunakan dalam peningkatan kualitas pembelajaran, yang selanjutnya dapat meningkatkan mutu guru dan mutu pendidikan.
Label:
Penelitian,
Penelitian Tindakan
00.57
PENDAHULUAN PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA KONTEKSTUAL BERBASIS LESSON STUDY
Berikut saya berikan contoh pembuatan ringkasan dalam penulisan proposal penelitian tindakan matematika yang telah saya buat:
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA KONTEKSTUAL BERBASIS LESSON
STUDY DI SD PASCA BENCANA ERUPSI MERAPI SELO BOYOLALI JAWA TENGAH
PENDAHULUAN
“Letusan Gunung Merapi yang terjadi sejak tanggal 26 Oktober 2010 dan mencapai puncaknya pada tanggal 5 November 2010 telah menjadi tragedi memilukan yang menyebabkan jatuhnya korban yang tidak ternilai besarnya. Bukan hanya korban harta benda tetapi juga korban nyawa. Hingga saat ini telah terdata ratusan rumah tinggal dan fasilitas umum (baik tempat ibadah, kantor pemerintahan dan bangunan sekolah) di wilayah lereng Merapi yang hancur atau rusak sehingga tidak dapat dipergunakan lagi. Erupsi Merapi juga membawa dampak buruk pada keberlanjutan pendidikan anak, khususnya anak-anak Sekolah Dasar (SD) di wilayah Selo Boyolali Jawa Tengah. Terkait dengan keberlanjutan pendidikan anak, muncul pertanyaan apakah kegiatan pembelajaran matematika pasca bencana erupsi merapi di SD wilayah Selo Boyolali Jawa Tengah efektif? Sutama (2011: 28) mengatakan, pembelajaran matematika tidak efektif karena (1) guru kurang memahami secara baik dokumen Standar Isi, guru belum mampu mengembangkan silabus, guru kesulitan merumuskan indikator berdasarkan SK dan KD, dan guru kesulitan menjabarkan SK/KD menjadi materi pokok, (2) pembelajaran matematika cenderung text book oriented dan abstrak, serta kurang terkait dengan kehidupan sehari-hari siswa sehingga konsep-konsep akademik sulit dipahami, dan (3) guru dalam mengajar cenderung kurang memperhatikan kemampuan awal siswa, guru kurang melakukan pengajaran bermakna dan metode yang digunakan kurang bervariasi.
Mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan (1) Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah; (2) Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika; (3) Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh; (4) Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah; dan (5) Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Bertolak dari pemikiran di atas dan dalam kondisi darurat, seyogyanya guru memfokuskan pada pengelolaan kelas dengan strategi yang sesuai kebutuhan, yaitu mengembangkan pembelajaran kontekstual berbasis lesson study. Pembelajaran kontekstual dapat merangsang wawasan anak dalam rangka merespon lingkungan (Johnson, 2009: 15). Lesson study merupakan model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegialitas mutual learning untuk membangun komunitas belajar (Susilo, dkk., 2009: vi). Hal ini sesuai dengan prinsip pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP, 2006), yakni siswa harus mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu, serta memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara bebas, dinamis, dan menyenangkan.
Bagaimana realitasnya di lapangan? Ada kesan umum, kemampuan guru matematika dalam implementasi KTSP masih kurang memadai. Sebagian besar dari mereka masih berpredikat sebagai pelaksana KTSP dan bahkan kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan lebih bersifat rutinitas. Guru belum siap menghadapi berbagai perubahan, akses pada materi mutakhir terbatas; wawasan dan keterampilan pembelajaran juga terbatas. Pembelajaran yang mereka laksanakan kering dan tanpa makna. Matematika yang disajikan kepada para siswa hanyalah kumpulan angka-angka dan rumus-rumus yang membosankan. Para siswa tidak mengetahui untuk apa belajar matematika. Buku-buku teks atau materi ajar yang digunakan guru lepas sama sekali dari tujuan pembelajaran matematika seperti telah dinyatakan sebelumnya. Buku-buku dipenuhi oleh kumpulan prinsip dan soal-soal yang kebenarannya ditentukan oleh otoritas guru. Lebih menyedihkan lagi, buku-buku tersebut dijadikan guru sebagai sumber utama untuk penilaian hasil belajar.
Pertanyaan yang perlu segera diatasi yaitu: bagaimana cara meningkatkan kemampuan guru matematika SD pasca bencana erupsi merapi dalam pengembangan pembelajaran? Strategi pembelajaran mana yang sesuai untuk guru matematika SD pasca bencana erupsi merapi? Apakah pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study dapat meningkatkan kualitas pembelajaran matematika SD pasca bencana erupsi merapi, serta dapat mengoptimalkan implementasi KTSP mata pelajaran matematika SD pasca bencana erupsi merapi?
Secara umum, penelitian ini bertujuan menghasilkan suatu model pembelajaran yang mendukung prinsip KTSP dan meningkatkan kualitas pembelajaran matematika SD pasca bencana erupsi merapi. Secara khusus, tujuan penelitian dan pengembangan ini dirinci dalam tiga tahun.
1. Tahun 1, Menyusun strategi pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study. Tujuan tahun 1 selanjutnya dirinci menjadi tiga.
a. Mendeskripsikan strategi pembelajaran matematika yang dilaksanakan oleh guru SD pasca bencana erupsi merapi di Selo Boyolali Jawa Tengah;
b. Mendeskripsikan faktor penghambat dan pendukung pembelajaran matematika yang dilaksanakan oleh guru SD pasca bencana erupsi merapi di Selo Boyolali Jawa Tengah; dan
c. Mendeskripsikan strategi pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study untuk materi ajar aljabar, geometri, dan statistika SD.
2. Tahun 2, Menyusun model pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study. Tujuan tahun 1 selanjutnya dirinci menjadi lima.
a. Pengembangan materi ajar matematika kontekstual di SD pasca bencana erupsi merapi;
b. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran matematika kontekstual di SD pasca bencana erupsi merapi;
c. Menyusun instrumen evaluasi pembelajaran matematika kontekstual di SD pasca bencana erupsi merapi;
d. Menyusun bahan ajar matematika kontekstual di SD pasca bencana erupsi merapi; dan
e. Menyusun model pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study untuk materi ajar aljabar, geometri, dan statistika SD.
3. Tahun 3, Menganalisis dan menguji efektivitas pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study. Tujuan tahun 2 selanjutnya dirinci menjadi lima.
a. Menganalisis dan mendeskripsikan peningkatan kualitas pembelajaran matematika kontekstual di SD pasca bencana erupsi merapi;
b. Mendeskripsikan persepsi guru SD tentang pembelajaran yang dikembangkan;
c. Menganalisis dan menguji kontribusi pelatihan pengembangan pembelajaran terhadap keterampilan mengajar bagi guru SD Selo Boyolali Jawa Tengah;
d. Menganalisis dan menguji kontribusi pembelajaran yang dikembangkan terhadap hasil belajar matematika bagi siswa SD pasca bencana erupsi merapi; dan
e. Mendeskripsikan faktor penghambat dan pendukung implementasi pembelajaran yang dikembangkan.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat sebagai prinsip-prinsip dalam pengembangan bahan ajar dan model pembelajaran serta penerapannya. Selain itu, model yang telah dirancang dapat digunakan oleh institusi pendidikan sebagai bahan pijakan untuk meningkatkan kompetensi guru dan siswa secara lebih luas, dalam arti bukan hanya siswa matematika yang ditingkatkan hasil belajarnya tetapi hasil belajar di bidang lainnya.
Tataran teoritis, hasil penelitian dan pengembangan ini diharapkan bermanfaat mengembangkan prinsip-prinsip pengembangan materi ajar, pembelajaran, dan lembar kerja siswa dan penerapan model pembelajaran dengan pendekatan aptitude treatment interaction berbasis portofolio. Hal ini semakin urgen bagi keperluan kajian teoritis manakala dikaitkan dengan masih minimnya bahan referensi yang membahas tentang model pengembangan materi ajar, model pembelajaran untuk peningkatan pemahaman konsep.
Secara praktis, studi ini dapat dimanfaatkan lembaga pendidikan LPTK/sekolah maupun dosen/guru. Lembaga pendidikan LPTK/Sekolah dapat memanfaatkan hasil studi ini untuk pengembangan kompetensi para calon guru/para guru di bidang pembelajaran. Kompetensi dalam bidang pembelajaran merupakan kebutuhan yang mendesak, karena pembelajaran bermutu merupakan jantungnya pendidikan secara umum. Para dosen/guru dapat memanfaatkan model produk studi ini untuk penyelenggaraan layanan pembelajaran bagi peningkatan pemahaman konsep mahasiswa/siswa, dan desain modelnya dapat diaplikasikan untuk pengembangan desain model pembelajaran mata pelajaran lain lebih lanjut.
“Letusan Gunung Merapi yang terjadi sejak tanggal 26 Oktober 2010 dan mencapai puncaknya pada tanggal 5 November 2010 telah menjadi tragedi memilukan yang menyebabkan jatuhnya korban yang tidak ternilai besarnya. Bukan hanya korban harta benda tetapi juga korban nyawa. Hingga saat ini telah terdata ratusan rumah tinggal dan fasilitas umum (baik tempat ibadah, kantor pemerintahan dan bangunan sekolah) di wilayah lereng Merapi yang hancur atau rusak sehingga tidak dapat dipergunakan lagi. Erupsi Merapi juga membawa dampak buruk pada keberlanjutan pendidikan anak, khususnya anak-anak Sekolah Dasar (SD) di wilayah Selo Boyolali Jawa Tengah. Terkait dengan keberlanjutan pendidikan anak, muncul pertanyaan apakah kegiatan pembelajaran matematika pasca bencana erupsi merapi di SD wilayah Selo Boyolali Jawa Tengah efektif? Sutama (2011: 28) mengatakan, pembelajaran matematika tidak efektif karena (1) guru kurang memahami secara baik dokumen Standar Isi, guru belum mampu mengembangkan silabus, guru kesulitan merumuskan indikator berdasarkan SK dan KD, dan guru kesulitan menjabarkan SK/KD menjadi materi pokok, (2) pembelajaran matematika cenderung text book oriented dan abstrak, serta kurang terkait dengan kehidupan sehari-hari siswa sehingga konsep-konsep akademik sulit dipahami, dan (3) guru dalam mengajar cenderung kurang memperhatikan kemampuan awal siswa, guru kurang melakukan pengajaran bermakna dan metode yang digunakan kurang bervariasi.
Mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan (1) Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah; (2) Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika; (3) Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh; (4) Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah; dan (5) Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Bertolak dari pemikiran di atas dan dalam kondisi darurat, seyogyanya guru memfokuskan pada pengelolaan kelas dengan strategi yang sesuai kebutuhan, yaitu mengembangkan pembelajaran kontekstual berbasis lesson study. Pembelajaran kontekstual dapat merangsang wawasan anak dalam rangka merespon lingkungan (Johnson, 2009: 15). Lesson study merupakan model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegialitas mutual learning untuk membangun komunitas belajar (Susilo, dkk., 2009: vi). Hal ini sesuai dengan prinsip pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP, 2006), yakni siswa harus mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu, serta memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara bebas, dinamis, dan menyenangkan.
Bagaimana realitasnya di lapangan? Ada kesan umum, kemampuan guru matematika dalam implementasi KTSP masih kurang memadai. Sebagian besar dari mereka masih berpredikat sebagai pelaksana KTSP dan bahkan kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan lebih bersifat rutinitas. Guru belum siap menghadapi berbagai perubahan, akses pada materi mutakhir terbatas; wawasan dan keterampilan pembelajaran juga terbatas. Pembelajaran yang mereka laksanakan kering dan tanpa makna. Matematika yang disajikan kepada para siswa hanyalah kumpulan angka-angka dan rumus-rumus yang membosankan. Para siswa tidak mengetahui untuk apa belajar matematika. Buku-buku teks atau materi ajar yang digunakan guru lepas sama sekali dari tujuan pembelajaran matematika seperti telah dinyatakan sebelumnya. Buku-buku dipenuhi oleh kumpulan prinsip dan soal-soal yang kebenarannya ditentukan oleh otoritas guru. Lebih menyedihkan lagi, buku-buku tersebut dijadikan guru sebagai sumber utama untuk penilaian hasil belajar.
Pertanyaan yang perlu segera diatasi yaitu: bagaimana cara meningkatkan kemampuan guru matematika SD pasca bencana erupsi merapi dalam pengembangan pembelajaran? Strategi pembelajaran mana yang sesuai untuk guru matematika SD pasca bencana erupsi merapi? Apakah pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study dapat meningkatkan kualitas pembelajaran matematika SD pasca bencana erupsi merapi, serta dapat mengoptimalkan implementasi KTSP mata pelajaran matematika SD pasca bencana erupsi merapi?
Secara umum, penelitian ini bertujuan menghasilkan suatu model pembelajaran yang mendukung prinsip KTSP dan meningkatkan kualitas pembelajaran matematika SD pasca bencana erupsi merapi. Secara khusus, tujuan penelitian dan pengembangan ini dirinci dalam tiga tahun.
1. Tahun 1, Menyusun strategi pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study. Tujuan tahun 1 selanjutnya dirinci menjadi tiga.
a. Mendeskripsikan strategi pembelajaran matematika yang dilaksanakan oleh guru SD pasca bencana erupsi merapi di Selo Boyolali Jawa Tengah;
b. Mendeskripsikan faktor penghambat dan pendukung pembelajaran matematika yang dilaksanakan oleh guru SD pasca bencana erupsi merapi di Selo Boyolali Jawa Tengah; dan
c. Mendeskripsikan strategi pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study untuk materi ajar aljabar, geometri, dan statistika SD.
2. Tahun 2, Menyusun model pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study. Tujuan tahun 1 selanjutnya dirinci menjadi lima.
a. Pengembangan materi ajar matematika kontekstual di SD pasca bencana erupsi merapi;
b. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran matematika kontekstual di SD pasca bencana erupsi merapi;
c. Menyusun instrumen evaluasi pembelajaran matematika kontekstual di SD pasca bencana erupsi merapi;
d. Menyusun bahan ajar matematika kontekstual di SD pasca bencana erupsi merapi; dan
e. Menyusun model pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study untuk materi ajar aljabar, geometri, dan statistika SD.
3. Tahun 3, Menganalisis dan menguji efektivitas pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study. Tujuan tahun 2 selanjutnya dirinci menjadi lima.
a. Menganalisis dan mendeskripsikan peningkatan kualitas pembelajaran matematika kontekstual di SD pasca bencana erupsi merapi;
b. Mendeskripsikan persepsi guru SD tentang pembelajaran yang dikembangkan;
c. Menganalisis dan menguji kontribusi pelatihan pengembangan pembelajaran terhadap keterampilan mengajar bagi guru SD Selo Boyolali Jawa Tengah;
d. Menganalisis dan menguji kontribusi pembelajaran yang dikembangkan terhadap hasil belajar matematika bagi siswa SD pasca bencana erupsi merapi; dan
e. Mendeskripsikan faktor penghambat dan pendukung implementasi pembelajaran yang dikembangkan.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat sebagai prinsip-prinsip dalam pengembangan bahan ajar dan model pembelajaran serta penerapannya. Selain itu, model yang telah dirancang dapat digunakan oleh institusi pendidikan sebagai bahan pijakan untuk meningkatkan kompetensi guru dan siswa secara lebih luas, dalam arti bukan hanya siswa matematika yang ditingkatkan hasil belajarnya tetapi hasil belajar di bidang lainnya.
Tataran teoritis, hasil penelitian dan pengembangan ini diharapkan bermanfaat mengembangkan prinsip-prinsip pengembangan materi ajar, pembelajaran, dan lembar kerja siswa dan penerapan model pembelajaran dengan pendekatan aptitude treatment interaction berbasis portofolio. Hal ini semakin urgen bagi keperluan kajian teoritis manakala dikaitkan dengan masih minimnya bahan referensi yang membahas tentang model pengembangan materi ajar, model pembelajaran untuk peningkatan pemahaman konsep.
Secara praktis, studi ini dapat dimanfaatkan lembaga pendidikan LPTK/sekolah maupun dosen/guru. Lembaga pendidikan LPTK/Sekolah dapat memanfaatkan hasil studi ini untuk pengembangan kompetensi para calon guru/para guru di bidang pembelajaran. Kompetensi dalam bidang pembelajaran merupakan kebutuhan yang mendesak, karena pembelajaran bermutu merupakan jantungnya pendidikan secara umum. Para dosen/guru dapat memanfaatkan model produk studi ini untuk penyelenggaraan layanan pembelajaran bagi peningkatan pemahaman konsep mahasiswa/siswa, dan desain modelnya dapat diaplikasikan untuk pengembangan desain model pembelajaran mata pelajaran lain lebih lanjut.
Label:
Penelitian,
Penelitian Tindakan
00.46
RINGKASAN PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA KONTEKSTUAL BERBASIS LESSON STUDY
Berikut saya berikan contoh pembuatan ringkasan dalam penulisan proposal penelitian tindakan matematika yang telah saya buat:
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA KONTEKSTUAL BERBASIS LESSON STUDY DI SD PASCA BENCANA ERUPSI MERAPI SELO BOYOLALI JAWA TENGAH
RINGKASAN:
“Letusan Gunung Merapi yang terjadi sejak tanggal 26 Oktober 2010 dan mencapai puncaknya pada tanggal 5 November 2010 telah menjadi tragedi memilukan yang menyebabkan jatuhnya korban yang tidak ternilai besarnya. Erupsi Merapi juga membawa dampak buruk pada keberlanjutan pendidikan anak, khususnya anak-anak Sekolah Dasar (SD) di wilayah Selo Boyolali Jawa Tengah. Terkait dengan keberlanjutan pendidikan anak, muncul pertanyaan apakah kegiatan pembelajaran matematika pasca bencana erupsi merapi di SD wilayah Selo Boyolali Jawa Tengah efektif? Sutama (2011: 28) mengatakan, pembelajaran matematika tidak efektif karena (1) guru kurang memahami secara baik dokumen Standar Isi, guru belum mampu mengembangkan silabus, guru kesulitan merumuskan indikator berdasarkan SK dan KD, dan guru kesulitan menjabarkan SK/KD menjadi materi pokok, (2) pembelajaran matematika cenderung text book oriented dan abstrak, serta kurang terkait dengan kehidupan sehari-hari siswa sehingga konsep-konsep akademik sulit dipahami, dan (3) guru dalam mengajar cenderung kurang memperhatikan kemampuan awal siswa, guru kurang melakukan pengajaran bermakna dan metode yang digunakan kurang bervariasi.
Bertolak dari pemikiran di atas dan dalam kondisi darurat, seyogyanya guru memfokuskan pada pengelolaan kelas dengan strategi yang sesuai kebutuhan, yaitu mengembangkan pembelajaran kontekstual berbasis lesson study. Pembelajaran kontekstual dapat merangsang wawasan anak dalam rangka merespon lingkungan (Johnson, 2009: 15). Lesson study merupakan model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegialitas mutual learning untuk membangun komunitas belajar (Susilo, dkk., 2009: vi).
Penelitian ini bertujuan: Tahun 1, menyusun strategi pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study. Tujuan tahun 1 dirinci untuk : (a) mendeskripsikan strategi pembelajaran matematika yang dilaksanakan oleh guru SD Selo Boyolali Jawa Tengah, (b) Tahun 2, menyusun model pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study. Tujuan tahun 2 dirinci untuk : (a) pengembangan materi ajar matematika kontekstual di SD pasca bencana erupsi merapi, (c) menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran matematika kontekstual di SD pasca bencana erupsi merapi, (d) menyusun instrumen evaluasi pembelajaran matematika kontekstual di SD pasca bencana erupsi merapi, dan (e) menyusun bahan ajar matematika kontekstual di SD pasca bencana erupsi merapi. Tahun 3, menganalisis dan menguji efektivitas pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study. Tujuan tahun 3 dirinci untuk: (a) menganalisis dan mendeskripsikan peningkatan kualitas pembelajaran matematika kontekstual di SD pasca bencana erupsi merapi, (b) mendeskripsikan persepsi guru SD tentang pembelajaran yang dikembangkan, (c) menganalisis dan menguji kontribusi pelatihan pengembangan pembelajaran terhadap keterampilan mengajar bagi guru SD Selo Boyolali Jawa Tengah, (d) menganalisis dan menguji kontribusi pembelajaran yang dikembangkan terhadap hasil belajar matematika bagi siswa SD pasca bencana erupsi merapi, dan (e) mendeskripsikan faktor penghambat dan pendukung implementasi pembelajaran yang dikembangkan.
Pendekatan penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan. Pengumpulan data dengan metode observasi, wawancara, dokumentasi, angket, dan tes. Subjek penelitian adalah guru, siswa, ahli pendidikan, dan pengambil kebijakan. Lokasi penelitian SD Selo Boyolali Jawa Tengah, baik untuk analisis kebutuhan, ujicoba terbatas, maupun implementasi model. Teknik analisis data menggunakan analisis interaktif, statistik deskriptif, t-tes, dan analisis regresi.
Target/output penelitian tahun I, strategi pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study (Buku Ajar: Strategi Pembelajaran Matematika Kontekstual berbasis lesson study, Publikasi Jurnal International/Jurnal Terakriditasi). Tahun II, model pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study (Buku Ajar: Modul Matematika Kontekstual berbasis lesson study untuk SD, Publikasi Jurnal International/Jurnal Terakriditasi). Tahun III, panduan implementasi pembelajaran matematika kontekstual yang sudah teruji dan efektif (Buku Ajar: Pengelolaan Pembelajaran Matematika Kontekstual berbasis lesson study, Publikasi Jurnal International/Jurnal Terakriditasi).
Bertolak dari pemikiran di atas dan dalam kondisi darurat, seyogyanya guru memfokuskan pada pengelolaan kelas dengan strategi yang sesuai kebutuhan, yaitu mengembangkan pembelajaran kontekstual berbasis lesson study. Pembelajaran kontekstual dapat merangsang wawasan anak dalam rangka merespon lingkungan (Johnson, 2009: 15). Lesson study merupakan model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegialitas mutual learning untuk membangun komunitas belajar (Susilo, dkk., 2009: vi).
Penelitian ini bertujuan: Tahun 1, menyusun strategi pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study. Tujuan tahun 1 dirinci untuk : (a) mendeskripsikan strategi pembelajaran matematika yang dilaksanakan oleh guru SD Selo Boyolali Jawa Tengah, (b) Tahun 2, menyusun model pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study. Tujuan tahun 2 dirinci untuk : (a) pengembangan materi ajar matematika kontekstual di SD pasca bencana erupsi merapi, (c) menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran matematika kontekstual di SD pasca bencana erupsi merapi, (d) menyusun instrumen evaluasi pembelajaran matematika kontekstual di SD pasca bencana erupsi merapi, dan (e) menyusun bahan ajar matematika kontekstual di SD pasca bencana erupsi merapi. Tahun 3, menganalisis dan menguji efektivitas pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study. Tujuan tahun 3 dirinci untuk: (a) menganalisis dan mendeskripsikan peningkatan kualitas pembelajaran matematika kontekstual di SD pasca bencana erupsi merapi, (b) mendeskripsikan persepsi guru SD tentang pembelajaran yang dikembangkan, (c) menganalisis dan menguji kontribusi pelatihan pengembangan pembelajaran terhadap keterampilan mengajar bagi guru SD Selo Boyolali Jawa Tengah, (d) menganalisis dan menguji kontribusi pembelajaran yang dikembangkan terhadap hasil belajar matematika bagi siswa SD pasca bencana erupsi merapi, dan (e) mendeskripsikan faktor penghambat dan pendukung implementasi pembelajaran yang dikembangkan.
Pendekatan penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan. Pengumpulan data dengan metode observasi, wawancara, dokumentasi, angket, dan tes. Subjek penelitian adalah guru, siswa, ahli pendidikan, dan pengambil kebijakan. Lokasi penelitian SD Selo Boyolali Jawa Tengah, baik untuk analisis kebutuhan, ujicoba terbatas, maupun implementasi model. Teknik analisis data menggunakan analisis interaktif, statistik deskriptif, t-tes, dan analisis regresi.
Target/output penelitian tahun I, strategi pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study (Buku Ajar: Strategi Pembelajaran Matematika Kontekstual berbasis lesson study, Publikasi Jurnal International/Jurnal Terakriditasi). Tahun II, model pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study (Buku Ajar: Modul Matematika Kontekstual berbasis lesson study untuk SD, Publikasi Jurnal International/Jurnal Terakriditasi). Tahun III, panduan implementasi pembelajaran matematika kontekstual yang sudah teruji dan efektif (Buku Ajar: Pengelolaan Pembelajaran Matematika Kontekstual berbasis lesson study, Publikasi Jurnal International/Jurnal Terakriditasi).
Label:
Penelitian,
Penelitian Tindakan
12.36
Strategi pembelajaran kontekstual
Written By Sutama on Jumat, 04 Januari 2013 | 12.36
Strategi pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching & Learning merupakan sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolong para siswa melihat
makna di dalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara
menghubungkan subjek-subjek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka, yaitu dengan konteks keadaan pribadi, sosial, dan budaya mereka (Elaine, 2011: 67).
Pembelajaran kontekstual merupakan suatu proses pendidikan yang holistik
dan bertujuan membentu siswa untuk memahami makna materi yang dipelajarinya
dengan mengaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari,
sehingga siswa memiliki pengetahuan / keterampilan yang secara fleksibel dapat
diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan / konteks ke permasalahan / konteks
yang lain (Depdiknas, 2006). Menurut Nanang Hanafiah dan Cucu Sahana (2009:
67) strategi pembelajaran kontekstual merupakan suatu proses pembelajaran
holistik yang bertujuan untuk membelajarkan peserta didik dalam memahami
bahan ajar secara bermakna (meaningfull) yang dikaitkan dengan konteks
kehidupan nyata, baik berkaitan dengan lingkungan pribadi, agama, sosial,
ekonomi, maupun kultural.
Wina Sanjaya (2008: 254) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran
kontekstual adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses
keterlibatan siswa secara peuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan
menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa
untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka. Sedangkan menurut Iif
Khoiru Ahmadi dkk (2011: 80) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran
kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi
yang diajarkan dengan situasi dunia nyatadan mendorong siswa membuat
hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya secara teoritis dan penerapannya
dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa CTL (Contextual
Teaching Learning) adalah sebuah sistem pembelajaran yang mengaitkan materi
yang dipelajari dengan konteks kehidupan nyata siswa.
Strategi pembelajaran kontekstual ini meliputi delapan komponen, yaitu
membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna, melakukan pekerjaan yang
berarti, melakukan pembelajaran yang diatur sendiri, melakukan kerjasama,
berpikir kritis dan kreatif, membantu individu untuk tumbuh dan berkembang,
mencapai standar yang tinggi, dan menggunakan penilaian autentik.
Wina Sanjaya (2008: 256) menyebutkan bahwa pembelajaran kontekstual
mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1) Pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada
(activing knowledge), artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari
pengetahuan yang sudah dipelajari, dengan demikian pengetahuan yang akan
diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh yag memiliki keterkaitan satu
sama lain.
2) Pembelajaran kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan
menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge). Pengetahua baru itu
diperoleh dengan cara deduktif, artinya pembelajaran dimulai dengan
mempelajari secara keseluruhan, kemudian memerhatikan detailnya.
3) Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), artinya pengetahuan
yang diperoleh bukan untuk dihafal tetapi untuk dipahami dan diyakini,
misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan
yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu
dikembangkan.
4) Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge),
artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat
diaplikasikan dalam kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan perilaku
siswa.
5) Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan
pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan
dan penyempurnaan strategi.
Tujuh komponen pembelajaran kontekstual adalah (1) constructivisme, (2)
inquiry, (3) questioning, (4) learning community, (5) modelling, (6) reflection, dan
(7) authentic assessment (Wina Sanjaya, 2008: 264).
Constructivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan
baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Dalam asas
konstrukticisme ini, siswa didorong untuk mampu mengkonstruksi pengetahuan
sendiri melalui pengelaman nyata.
Inquiry adalah proses pembelajaran yang didasarkan pada pencarian dan
penemuan melaui proses berpikir secara sistematis. Penerapan asas ini dimulai
dari kesadaran siswa akan masalah yang jelas yang ingin dipecahkan. Guru harus
mendorong siswa untuk memecahkan masalah, kemudian siswa mengajukan
hipotesis atau jawaban sementara sesuai dengan rumusan masalah yang diajukan.
Selanjutnya siswa melakukan observasi hipotesis tersebut untuk mengumpulkan
data. Data yang terkumpul tersebut diuji hipotesisnya untuk merumuskan
kesimpulan. Berdasarkan proses berpikir yang sistematis seperti di atas,
diharapkan siswa memiliki sikap ilmiah, rasional, da logis, yang kesemuanya itu
diperlukan sebagai dasar pembentuk kreativitas.
Questioning merupakan refleksi dari keingintahuan setiap individu. Dalam
strategi pembelajaran kontekstual, guru tiadak menyampaikan informasi begitu
saja, akan tetapi memancing agar siswa dapat menemukan sendiri. Guru dapat
membimbing dan mengarahkan siswa untuk menemukan setiap materi yang
dipelajarinya melalui pertanyaan-pertanyaan. Oleh karena itu, kemapuan guru
untuk mengembangkan teknik-teknik bertanya sangat diperlukan.
Learning community dalam strategi pembelajaran kontekstual menyarankan
agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerjasama dengan orang lain.
Kerjasama dapat dilakukan dalam berbagai bentuk baik dalam kelompok belajar
secara formal maupun dalam lingkungan yang terjadi secara alamiah. Setiap orang
bisa terlibat, saling membelajarkan, bertukar informasi, dan bertukar pengalaman.
Modelling adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu
sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Modelling ini dapat
menjadikan siswa terhindar dari pembelajaran yang teoristis-abstrak yang dapat
memungkinkan terjadinya verbalisme.
Reflection adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari
yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau
peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya. Guru memberikan kesempatan
kepada siswa untuk “merenung” atau mengingat kembali apa yang telah
dipelajaranya pada setiap akhir proses pembelajaran. Siswa secara bebas dapat
mnafsirkan pengalamanya sendiri, sehingga dapat menyimpulkan tentang
pengelaman belajarnya.
Authentic assessment adalah proses yang dilakukan guru untuk
mengumpulkan informasi tentang perkambangan belajar yag dilakukan siswa.
penilaian ini dilakukan secara terintegrasi dengan proses pembelajaran yang
dilakukan secara terus menerus selama kegiatan pembelajaran berlangsung.
Strategi pembelajaran kontekstual yang akan digunakan adalah strategi
pembelajaran kontekstual berdasarkan masalah secara berkelompok. Supinah
(2008: 11) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran kontekstual berdasarkan
masalah adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia
nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar melalui berpikir kritis dan
keterampilan pemecahan masalah dalam rangka memperoleh pengetahuan dan
konsep yang esensi dari materi pelajaran.
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulakan bahwa strategi
pembelajaran kontekstual berdasarkan masalah secara berkelompok merupakan
suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata yang
diselesaikan secara berkelompok sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar
melalui berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah dalam rangka
memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensi dari materi pelajaran.
Supinah dan Titik Sutanti (2010: 44) mengemukakan langkah-langkah
dalam strategi pembelajaran kontekstual sebagai berikut:
1) Orientasi siswa pada situasi masalah
2) Mengorganisasi siswa untuk belajar
3) Mebimbing penyelidikan individual maupun kelompok
4) Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
5) Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
Keunggulan strategi pembelajaran kontekstual meliputi 1) strategi
pembelajaran kontekstual memberi kesempatan siswa untuk menemukan makna
dan arti diri dalam pelajaran akademik dengan benar-benar mengaitkan pekerjaan
sekolah dengan kehidupan sehari-hari dan minat siswa, 2) strategi pembelajaran
kontekstual dapat digunakan oleh semua siswa baik yang sangat berbakat maupun
siswa yang mengalami kesulitan belajar, 3) strategi pembelajaran kontekstual
merupakan strategi yang sangat menarik di antara banyak metode pengajaran
lainnya, 4) strategi pembelajaran kontekstual memberikan kesempatan kepada
semua siswa untuk mengembangkan harapan mereka, untuk mengembangkan
bakat mereka, dan mengetahui informasi terbaru, serta menjadi anggota sebuah
masyarakat demokrasi yang cakap.
e. Penerapan strategi kontekstual dalam pembelajaran matematika
Nina Nurhasanah (2009) menyimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual
merupakan suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses
keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari
dan menghubungkan dengan situasi kehidupan yang nyata sehingga mendorong
siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.
Prosedur dari strategi pembelajaran kontekstual pada materi Sistem
Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV) adalah sebagai berikut.
makna di dalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara
menghubungkan subjek-subjek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka, yaitu dengan konteks keadaan pribadi, sosial, dan budaya mereka (Elaine, 2011: 67).
Pembelajaran kontekstual merupakan suatu proses pendidikan yang holistik
dan bertujuan membentu siswa untuk memahami makna materi yang dipelajarinya
dengan mengaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari,
sehingga siswa memiliki pengetahuan / keterampilan yang secara fleksibel dapat
diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan / konteks ke permasalahan / konteks
yang lain (Depdiknas, 2006). Menurut Nanang Hanafiah dan Cucu Sahana (2009:
67) strategi pembelajaran kontekstual merupakan suatu proses pembelajaran
holistik yang bertujuan untuk membelajarkan peserta didik dalam memahami
bahan ajar secara bermakna (meaningfull) yang dikaitkan dengan konteks
kehidupan nyata, baik berkaitan dengan lingkungan pribadi, agama, sosial,
ekonomi, maupun kultural.
Wina Sanjaya (2008: 254) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran
kontekstual adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses
keterlibatan siswa secara peuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan
menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa
untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka. Sedangkan menurut Iif
Khoiru Ahmadi dkk (2011: 80) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran
kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi
yang diajarkan dengan situasi dunia nyatadan mendorong siswa membuat
hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya secara teoritis dan penerapannya
dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa CTL (Contextual
Teaching Learning) adalah sebuah sistem pembelajaran yang mengaitkan materi
yang dipelajari dengan konteks kehidupan nyata siswa.
Strategi pembelajaran kontekstual ini meliputi delapan komponen, yaitu
membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna, melakukan pekerjaan yang
berarti, melakukan pembelajaran yang diatur sendiri, melakukan kerjasama,
berpikir kritis dan kreatif, membantu individu untuk tumbuh dan berkembang,
mencapai standar yang tinggi, dan menggunakan penilaian autentik.
Wina Sanjaya (2008: 256) menyebutkan bahwa pembelajaran kontekstual
mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1) Pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada
(activing knowledge), artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari
pengetahuan yang sudah dipelajari, dengan demikian pengetahuan yang akan
diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh yag memiliki keterkaitan satu
sama lain.
2) Pembelajaran kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan
menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge). Pengetahua baru itu
diperoleh dengan cara deduktif, artinya pembelajaran dimulai dengan
mempelajari secara keseluruhan, kemudian memerhatikan detailnya.
3) Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), artinya pengetahuan
yang diperoleh bukan untuk dihafal tetapi untuk dipahami dan diyakini,
misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan
yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu
dikembangkan.
4) Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge),
artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat
diaplikasikan dalam kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan perilaku
siswa.
5) Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan
pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan
dan penyempurnaan strategi.
Tujuh komponen pembelajaran kontekstual adalah (1) constructivisme, (2)
inquiry, (3) questioning, (4) learning community, (5) modelling, (6) reflection, dan
(7) authentic assessment (Wina Sanjaya, 2008: 264).
Constructivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan
baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Dalam asas
konstrukticisme ini, siswa didorong untuk mampu mengkonstruksi pengetahuan
sendiri melalui pengelaman nyata.
Inquiry adalah proses pembelajaran yang didasarkan pada pencarian dan
penemuan melaui proses berpikir secara sistematis. Penerapan asas ini dimulai
dari kesadaran siswa akan masalah yang jelas yang ingin dipecahkan. Guru harus
mendorong siswa untuk memecahkan masalah, kemudian siswa mengajukan
hipotesis atau jawaban sementara sesuai dengan rumusan masalah yang diajukan.
Selanjutnya siswa melakukan observasi hipotesis tersebut untuk mengumpulkan
data. Data yang terkumpul tersebut diuji hipotesisnya untuk merumuskan
kesimpulan. Berdasarkan proses berpikir yang sistematis seperti di atas,
diharapkan siswa memiliki sikap ilmiah, rasional, da logis, yang kesemuanya itu
diperlukan sebagai dasar pembentuk kreativitas.
Questioning merupakan refleksi dari keingintahuan setiap individu. Dalam
strategi pembelajaran kontekstual, guru tiadak menyampaikan informasi begitu
saja, akan tetapi memancing agar siswa dapat menemukan sendiri. Guru dapat
membimbing dan mengarahkan siswa untuk menemukan setiap materi yang
dipelajarinya melalui pertanyaan-pertanyaan. Oleh karena itu, kemapuan guru
untuk mengembangkan teknik-teknik bertanya sangat diperlukan.
Learning community dalam strategi pembelajaran kontekstual menyarankan
agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerjasama dengan orang lain.
Kerjasama dapat dilakukan dalam berbagai bentuk baik dalam kelompok belajar
secara formal maupun dalam lingkungan yang terjadi secara alamiah. Setiap orang
bisa terlibat, saling membelajarkan, bertukar informasi, dan bertukar pengalaman.
Modelling adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu
sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Modelling ini dapat
menjadikan siswa terhindar dari pembelajaran yang teoristis-abstrak yang dapat
memungkinkan terjadinya verbalisme.
Reflection adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari
yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau
peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya. Guru memberikan kesempatan
kepada siswa untuk “merenung” atau mengingat kembali apa yang telah
dipelajaranya pada setiap akhir proses pembelajaran. Siswa secara bebas dapat
mnafsirkan pengalamanya sendiri, sehingga dapat menyimpulkan tentang
pengelaman belajarnya.
Authentic assessment adalah proses yang dilakukan guru untuk
mengumpulkan informasi tentang perkambangan belajar yag dilakukan siswa.
penilaian ini dilakukan secara terintegrasi dengan proses pembelajaran yang
dilakukan secara terus menerus selama kegiatan pembelajaran berlangsung.
Strategi pembelajaran kontekstual yang akan digunakan adalah strategi
pembelajaran kontekstual berdasarkan masalah secara berkelompok. Supinah
(2008: 11) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran kontekstual berdasarkan
masalah adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia
nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar melalui berpikir kritis dan
keterampilan pemecahan masalah dalam rangka memperoleh pengetahuan dan
konsep yang esensi dari materi pelajaran.
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulakan bahwa strategi
pembelajaran kontekstual berdasarkan masalah secara berkelompok merupakan
suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata yang
diselesaikan secara berkelompok sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar
melalui berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah dalam rangka
memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensi dari materi pelajaran.
Supinah dan Titik Sutanti (2010: 44) mengemukakan langkah-langkah
dalam strategi pembelajaran kontekstual sebagai berikut:
1) Orientasi siswa pada situasi masalah
2) Mengorganisasi siswa untuk belajar
3) Mebimbing penyelidikan individual maupun kelompok
4) Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
5) Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
Keunggulan strategi pembelajaran kontekstual meliputi 1) strategi
pembelajaran kontekstual memberi kesempatan siswa untuk menemukan makna
dan arti diri dalam pelajaran akademik dengan benar-benar mengaitkan pekerjaan
sekolah dengan kehidupan sehari-hari dan minat siswa, 2) strategi pembelajaran
kontekstual dapat digunakan oleh semua siswa baik yang sangat berbakat maupun
siswa yang mengalami kesulitan belajar, 3) strategi pembelajaran kontekstual
merupakan strategi yang sangat menarik di antara banyak metode pengajaran
lainnya, 4) strategi pembelajaran kontekstual memberikan kesempatan kepada
semua siswa untuk mengembangkan harapan mereka, untuk mengembangkan
bakat mereka, dan mengetahui informasi terbaru, serta menjadi anggota sebuah
masyarakat demokrasi yang cakap.
e. Penerapan strategi kontekstual dalam pembelajaran matematika
Nina Nurhasanah (2009) menyimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual
merupakan suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses
keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari
dan menghubungkan dengan situasi kehidupan yang nyata sehingga mendorong
siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.
Prosedur dari strategi pembelajaran kontekstual pada materi Sistem
Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV) adalah sebagai berikut.
Label:
Penelitian,
Penelitian Tindakan
12.25
Koneksi Matematika
Koneksi matematika adalah keterkaitan antara konsep-konsep matematika secara internal yaitu berhubungan dengan matematika itu sendiri ataupun keterkaitan secara eksternal, yaitu matematika dengan bidang lain baik bidang studi lain maupun dengan kehidupan sehari-hari (matematikadedi, 2012: 1).
Dalam jurnal Yanto Permana dan Utari Sumarmo (2007: 117) menyimpulkan bahwa koneksi matematika merupakan keterkaitan antar konsep atau ide matematika yang akan memfasilitasi kemampuan siswa untuk
memformulasi dan memverifikasi konjektur secara induktif dan deduktif, selanjutnya konsep, ide, dan prosedur matematika yang baru dikembangkan dapat deterapkan untuk menyelesaikan masalah lain dalam matematika atau disiplin ilmu lainnya. Sedangkan dalam jurnal yuniawatika (2011: 108) kemampuan koneksi matematika merupakan kemampuan untuk membuat suatu hubungan yang bermakna antar konsep matematika atau antara konsep dengan bidang lain ataupun dengan kehidupan atau lingkungan sekitar siswa. Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa koneksi matematika adalah kemampuan siswa untuk mengaitkan konsep-konsep matematika yang meliputi keterkaitan antar topik matematika, konsep matematika dengan disiplin ilmu lain, dan konsep matematika dengan dunia nyata siswa. Koneksi matematika terdiri dari empat indikator, yaitu a) siswa yang mampu menyampaikan materi dengan baik kepada teman satu kelompok dalam diskusi, b) siswa yang mampu mengarahkan dan mau berbagi cara dengan menjelaskan tahapan-tahapan dalam penyelesaian soal dengan teman sebaya baik
dalam kerja kelompok ataupun tidak, c) siswa yang berani maju ke dapan kelas untuk menyampaikan dan menjelaskan pendapat ataupun mengerjakan soal tanpa harus ditunjuk oleh guru, d) siswa yang mampu berkomunikasi secara efektif dengan orang lain dalam mencari tahu solusi dalam penyelesaian masalah (soal), dan e) siswa yang mampu menyelesaiakan soal dengan konsep yang benar dan matang.
Dalam jurnal Yanto Permana dan Utari Sumarmo (2007: 117) menyimpulkan bahwa koneksi matematika merupakan keterkaitan antar konsep atau ide matematika yang akan memfasilitasi kemampuan siswa untuk
memformulasi dan memverifikasi konjektur secara induktif dan deduktif, selanjutnya konsep, ide, dan prosedur matematika yang baru dikembangkan dapat deterapkan untuk menyelesaikan masalah lain dalam matematika atau disiplin ilmu lainnya. Sedangkan dalam jurnal yuniawatika (2011: 108) kemampuan koneksi matematika merupakan kemampuan untuk membuat suatu hubungan yang bermakna antar konsep matematika atau antara konsep dengan bidang lain ataupun dengan kehidupan atau lingkungan sekitar siswa. Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa koneksi matematika adalah kemampuan siswa untuk mengaitkan konsep-konsep matematika yang meliputi keterkaitan antar topik matematika, konsep matematika dengan disiplin ilmu lain, dan konsep matematika dengan dunia nyata siswa. Koneksi matematika terdiri dari empat indikator, yaitu a) siswa yang mampu menyampaikan materi dengan baik kepada teman satu kelompok dalam diskusi, b) siswa yang mampu mengarahkan dan mau berbagi cara dengan menjelaskan tahapan-tahapan dalam penyelesaian soal dengan teman sebaya baik
dalam kerja kelompok ataupun tidak, c) siswa yang berani maju ke dapan kelas untuk menyampaikan dan menjelaskan pendapat ataupun mengerjakan soal tanpa harus ditunjuk oleh guru, d) siswa yang mampu berkomunikasi secara efektif dengan orang lain dalam mencari tahu solusi dalam penyelesaian masalah (soal), dan e) siswa yang mampu menyelesaiakan soal dengan konsep yang benar dan matang.
Label:
Penelitian,
Penelitian Tindakan
12.18
1) Hakekat matematika
Matematika merupakan bahasa yang melambangkan serangkaian makna yang akan disampaikan. Lambang-lambang matematika bersifat artificial, yang berarti bahwa matematika akan memiliki arti setelah sebuah makna diberikan. Tanpa serangkaian makna tersebut, matematika hanya merupakan sekumpulan rumus-rumus yang mati.
Hal senada juga disampaikan oleh Evawati Alisah (2007: 23) bahwa matematika adalah sebuah bahasa, ini artinya matematika merupakan sebuah cara mengungkapkan atau menerangkan dengan cara tertentu. Hal ini berarti matematika bukan hanya sekadar alat untuk berpikir dan menemukan pola, melainkan matematika juga sebagai wahana untuk mengkomunikasikan ide, gagasan dan pendapat antar siswa dan antara guru dengan siswa. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa matematika merupakan bahasa yang melambangkan suatu makna untuk mengkomunikasikan ide, gagasan dan pendapat.
2) Hakekat komunikasi
Komunikasi merupakan bagian penting dari matematika dan pendidikan matematika (National Council of Teachers of Mathematics [NCTM], 2000). Menulis dan diskusi merupakan bagian terpenting dari komunikasi. Keduanya membutuhkan pemahaman konsep yang lebih mendalam. Menulis merupakan
suatu cara bagi siswa untuk merenungkan atau menjelaskan ide-ide matematika tertentu secara terperinci. Hal ini membantu siswa untuk mengartikulasikan strategi sehingga meningkatkan pengetahuan prosedural dan manfaat kognitif secara umum. Diskusi merupakan jalan untuk memperdalam pemahaman konsep-konsep melalui interaksi sosial. Hal ini memungkinkan siswa untuk ikut terlibat dalam lingkungan dan kegiatan yang sama dengan orang lain, sehingga memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan pengetahuan baru.
3) Konsep komunikasi matematika
Komunikasi matematika adalah bahasa yang melambangkan makna dari serangkaian pernyataan yang ingin kita sampaikan. Bansu Irianto Ansari (2003) menelaah kemampuan komunikasi matematika dari dua aspek yaitu komunikasi lisan (talking) dan komunikasi tulisan (writing). Komunikasi lisan diungkap melalui intensitas keterlibatan siswa dalam kelompok kecil selama berlangsungnya proses pembelajaran. Sementara yang dimaksud dengan komunikasi matematika tulisan (writing) adalah kemampuan dan keterampilan siswa menggunakan kosa kata (vocabulary), notasi dan struktur matematika untuk menyatakan hubungan dan gagasan serta memahaminya dalam memecahkan masalah. Komunikasi tertulis juga dapat berupa uraian pemecahan masalah atau pembuktian matematika yang menggambarkan kemampuan siswa dalam mengorganisasi berbagai konsep untuk menyelesaikan masalah. Kemampuan ini diungkap melalui repsentasi matematika. Repsentasi matematika siswa diklasifikasikan dalam tiga kategori yaitu:
mengembangkan kemampuan komunikasi siswa melalui berbagai variasi pendekatan, model, dan metode pembelajaran. Diskusi merupakan salah satu metode pembelajaran matematika yang dapat menumbuhkan komunikasi antarsiswa. Dalam diskusi terjadi pertukaran ide dan gagasan pemikiran, sehingga siswa mendapatkan kesempatan untuk membangun pemahaman konsep matematiknya. Dapat disimpulkan bahwa indikator dari kemampuan komunikasi matematika adalah a) siswa mampu menyatakan ide matematika
dengan berbicara, b) siswa mampu menggambarkan ide ke dalam model matematika, c) siswa mampu menuliskan ide matematika dalam bentuk visual, d) siswa mampu menjelaskan konsep matematika.
Komunikasi matematika
1) Hakekat matematika
Matematika merupakan bahasa yang melambangkan serangkaian makna yang akan disampaikan. Lambang-lambang matematika bersifat artificial, yang berarti bahwa matematika akan memiliki arti setelah sebuah makna diberikan. Tanpa serangkaian makna tersebut, matematika hanya merupakan sekumpulan rumus-rumus yang mati.
Hal senada juga disampaikan oleh Evawati Alisah (2007: 23) bahwa matematika adalah sebuah bahasa, ini artinya matematika merupakan sebuah cara mengungkapkan atau menerangkan dengan cara tertentu. Hal ini berarti matematika bukan hanya sekadar alat untuk berpikir dan menemukan pola, melainkan matematika juga sebagai wahana untuk mengkomunikasikan ide, gagasan dan pendapat antar siswa dan antara guru dengan siswa. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa matematika merupakan bahasa yang melambangkan suatu makna untuk mengkomunikasikan ide, gagasan dan pendapat.
2) Hakekat komunikasi
Komunikasi merupakan bagian penting dari matematika dan pendidikan matematika (National Council of Teachers of Mathematics [NCTM], 2000). Menulis dan diskusi merupakan bagian terpenting dari komunikasi. Keduanya membutuhkan pemahaman konsep yang lebih mendalam. Menulis merupakan
suatu cara bagi siswa untuk merenungkan atau menjelaskan ide-ide matematika tertentu secara terperinci. Hal ini membantu siswa untuk mengartikulasikan strategi sehingga meningkatkan pengetahuan prosedural dan manfaat kognitif secara umum. Diskusi merupakan jalan untuk memperdalam pemahaman konsep-konsep melalui interaksi sosial. Hal ini memungkinkan siswa untuk ikut terlibat dalam lingkungan dan kegiatan yang sama dengan orang lain, sehingga memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan pengetahuan baru.
3) Konsep komunikasi matematika
Komunikasi matematika adalah bahasa yang melambangkan makna dari serangkaian pernyataan yang ingin kita sampaikan. Bansu Irianto Ansari (2003) menelaah kemampuan komunikasi matematika dari dua aspek yaitu komunikasi lisan (talking) dan komunikasi tulisan (writing). Komunikasi lisan diungkap melalui intensitas keterlibatan siswa dalam kelompok kecil selama berlangsungnya proses pembelajaran. Sementara yang dimaksud dengan komunikasi matematika tulisan (writing) adalah kemampuan dan keterampilan siswa menggunakan kosa kata (vocabulary), notasi dan struktur matematika untuk menyatakan hubungan dan gagasan serta memahaminya dalam memecahkan masalah. Komunikasi tertulis juga dapat berupa uraian pemecahan masalah atau pembuktian matematika yang menggambarkan kemampuan siswa dalam mengorganisasi berbagai konsep untuk menyelesaikan masalah. Kemampuan ini diungkap melalui repsentasi matematika. Repsentasi matematika siswa diklasifikasikan dalam tiga kategori yaitu:
- Pemunculan model konseptual, seperti gambar, diagram,tabel dan grafik (drawing)
- Membentuk model matematika (mathematical expression)
- Argumentasi verbal yang didasari pada analisis terhadap gambar dan konsep-konsep formal (aspek written texts)
mengembangkan kemampuan komunikasi siswa melalui berbagai variasi pendekatan, model, dan metode pembelajaran. Diskusi merupakan salah satu metode pembelajaran matematika yang dapat menumbuhkan komunikasi antarsiswa. Dalam diskusi terjadi pertukaran ide dan gagasan pemikiran, sehingga siswa mendapatkan kesempatan untuk membangun pemahaman konsep matematiknya. Dapat disimpulkan bahwa indikator dari kemampuan komunikasi matematika adalah a) siswa mampu menyatakan ide matematika
dengan berbicara, b) siswa mampu menggambarkan ide ke dalam model matematika, c) siswa mampu menuliskan ide matematika dalam bentuk visual, d) siswa mampu menjelaskan konsep matematika.
Label:
Penelitian,
Penelitian Tindakan
10.10

Kerjasama Pendidikan RI & Kerajaan Inggris
Written By Sutama on Kamis, 03 Januari 2013 | 10.10
Pada kesempatan Kunjungan Kenegaraan
Presiden SBY ke Inggris dan pertemuan beliau dengan Perdana Menteri
David Cameron, beberapa dokumen kerjasama pendidikan berikut telah
ditandatangani, yang melambangkan penguatan hubungan bilateral kedua
negara.
Beberapa poin penting yang disepakati antara lain pembentukan program
beasiswa antara Dikti Indonesia dengan pemerintah Kerajaan Inggris,
promosi studi di Indonesia yang merupakan kerja sama dengan Oxford
University, serta memorandum saling pengertian antara beberapa perguruan
tinggi terkemuka di Indonesia.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Universitas Muhammadiyah Surakarta bekerja sama dengan The University of Nottingham dalam "Program Pasca Sarjana dan Doktoral Terpadu dalam Bidang Desain Bahan". Ini adalah salah satu langkah nyata UMS dalam mewujudkan program Go International.
Sementara perguruan tinggi lain yang turut bekerja sama adalah Newcastle University dan Universitas Indonesia dalam "Pembentukan Pusat Pelatihan Dokter Newcastle University-Universitas Indonesia (NUUIDTC) dalam Bidang Obat-obatan, Gigi, Ilmu Biomedis, Ilmu Kehidupan dan Nutrisi", Cranfield University dan Institut Teknologi Bandung dalam "Program Gelar Ganda (Double-Degree) pada Tingkat Pasca Sarjana dalam Bidang Teknik dan Teknologi", Northumbria University dan Universitas Bina Nusantara dalam "3 Program Baru pada Tingkat Sarjana dalam Bidang Desain Interior, Desain Industri dan Desain Media Interaktif", University of Southampton dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember dalam "Bekerjasama dalam Bidang Pengajaran dan Penelitian, serta Pengembangan Pertukaran Akademis", serta The Open University dan Universitas Terbuka dalam "Kolaborasi dalam Bidang Penjaminan Kualitas, Pengembangan Kurikulum dan Penelitian Pedagogi".
Penandatanganan dokumen-dokumen kerjasama tersebut sebagai sebuah bentuk pengakuan atas semakin luas dan eratnya kerjasama pendidikan dan keterampilan antara Indonesia dan Kerajaan Inggris. Kerja sama kedepan dalam berbagai bidang seperti berbagi pengalaman terbaik dalam pendidikan kejuruan dan pelatihan, pelatihan guru/kepemimpinan, penjaminan kualitas dan pengembangan kurikulum.
Willetts signs UK-Indonesia agreement
UK-Indonesian partnerships agreed
Sumber :http://www.ums.ac.id/Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Universitas Muhammadiyah Surakarta bekerja sama dengan The University of Nottingham dalam "Program Pasca Sarjana dan Doktoral Terpadu dalam Bidang Desain Bahan". Ini adalah salah satu langkah nyata UMS dalam mewujudkan program Go International.
Sementara perguruan tinggi lain yang turut bekerja sama adalah Newcastle University dan Universitas Indonesia dalam "Pembentukan Pusat Pelatihan Dokter Newcastle University-Universitas Indonesia (NUUIDTC) dalam Bidang Obat-obatan, Gigi, Ilmu Biomedis, Ilmu Kehidupan dan Nutrisi", Cranfield University dan Institut Teknologi Bandung dalam "Program Gelar Ganda (Double-Degree) pada Tingkat Pasca Sarjana dalam Bidang Teknik dan Teknologi", Northumbria University dan Universitas Bina Nusantara dalam "3 Program Baru pada Tingkat Sarjana dalam Bidang Desain Interior, Desain Industri dan Desain Media Interaktif", University of Southampton dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember dalam "Bekerjasama dalam Bidang Pengajaran dan Penelitian, serta Pengembangan Pertukaran Akademis", serta The Open University dan Universitas Terbuka dalam "Kolaborasi dalam Bidang Penjaminan Kualitas, Pengembangan Kurikulum dan Penelitian Pedagogi".
Penandatanganan dokumen-dokumen kerjasama tersebut sebagai sebuah bentuk pengakuan atas semakin luas dan eratnya kerjasama pendidikan dan keterampilan antara Indonesia dan Kerajaan Inggris. Kerja sama kedepan dalam berbagai bidang seperti berbagi pengalaman terbaik dalam pendidikan kejuruan dan pelatihan, pelatihan guru/kepemimpinan, penjaminan kualitas dan pengembangan kurikulum.
Willetts signs UK-Indonesia agreement
UK-Indonesian partnerships agreed
Label:
Artikel,
Berita,
Materi Pembelajaran,
Penelitian,
Penelitian Tindakan,
Pengumuman,
RMP,
Silabus

















