Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Materi Pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi Pembelajaran. Tampilkan semua postingan
01.26
Implementasi KTSP dan Model Pembelajaran
Written By Sutama on Kamis, 10 Januari 2013 | 01.26
Istilah implementasi memiliki banyak arti. Beauchamp (1975: 164) mengartikan implementasi kurikulum sebagai "a process of putting the curriculum to work". Berdasarkan pendapat tersebut, sesungguhnya, implementasi kurikulum merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk mewujudkan atau melaksanakan kurikulum (dalam arti rencana tertulis) ke dalam bentuk nyata di kelas, yaitu terjadinya proses transmisi dan transformasi segenap pengalaman belajar kepada peserta didik. Beberapa istilah yang bisa disepadankan dengan istilah implementasi kurikulum adalah pembelajaran atau pengajaran atau proses belajar mengajar.
Melalui pengertian yang demikian, implementasi kurikulum memiliki posisi yang sangat menentukan bagi keberhasilan kurikulum sebagai rencana tertulis. Hasan (2000: 1) mengatakan "… jika kurikulum dalam bentuk rencana tertulis dilaksanakan maka kurikulum dalam bentuk proses adalah realisasi atau implementasi dari kurikulum sebagai rencana tertulis". Bisa jadi, dua orang guru yang sama-sama mengimplementasikan sebuah kurikulum (misal, kurikulum mata pelajaran matematika) akan diterima atau dikuasai anak secara berbeda bukan karena isi atau aspek-aspek kurikulumnya yang berbeda, tetapi lebih disebabkan perbedaan dalam implementasi kurikulum yang diupayakan guru tersebut.
Begitu urgennya posisi implementasi bagi terwujud atau tidaknya sebuah kurikulum, sangatlah tepat manakala persoalan implementasi kurikulum merupakan persoalan esensial di kalangan pengembang dan pelaksana kurikulum. Terlebih lagi jika sistem persekolahan yang ada lebih menekankan dimensi proses dari pada hasil belajar. Oleh karena itu, agar implementasi kurikulum dapat terwujud sesuai dengan kurikulum sebagai rencana tertulis, disarankan Hasan (2000: 1) agar terlebih dahulu memahami secara tepat tentang filsafat dan teori yang digunakan.
Ditegaskan oleh Sukmadinata (1988: 218) dengan mengatakan bahwa implementasi kurikulum hampir seluruhnya tergantung pada kreativitas, kecakapan, kesungguhan, dan ketekunan guru. Bagaimana kaitannya dengan kegiatan pembelajaran dalam implementasi KTSP? Mengacu pada asumsi bahwa kurikulum dan pembelajaran memiliki kaitan yang erat dan saling menunjang maka pembahasan mengenai pembelajaran dalam konteks implementasi KTSP tentu tidak bisa dilepaskan dari karakteristik KTSP. Oleh karena itu, apabila KTSP memiliki karakteristik utama yaitu human competence dan mastery learning, tentu saja model pembelajarannya haruslah mencerminkan dan berbasis pada dua karakteristik tersebut.
Selanjutnya, model pembelajaran manakah yang relevan dengan KTSP? Puskur Balitbang Depdiknas (2002) mengajukan karakteristik model pembelajaran yang relevan digunakan untuk implementasi KTSP yaitu model-model pembelajaran yang mampu mengkondisikan peserta didik meraih atau memperoleh sejumlah pengalaman belajar yang berupa; pengetahuan, ketrampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Berkaitan dengan itu, Saylor, dkk. (1981: 279) mengajukan rambu-rambu model-model pembelajaran yang relevan untuk implementasi KTSP, yaitu; desain sistem instruksional, pembelajaran berprograma, dan model pembelajaran latihan dan dril (practice and drill). Sementara itu, jika dikaitkan dengan klasifikasi model pembelajaran yang dikemukakan Joyce dan Weils (1992) maka rumpun model pembelajaran “sistem perilaku” dipandang relevan untuk implementasi KTSP, yang meliputi; belajar tuntas, pembelajaran langsung, belajar kontrol diri, latihan pengembangan konsep dan ketrampilan, dan latihan asersif.
Banyak model pembelajaran yang diasumsikan relevan untuk implementasi KTSP. Dalam hal ini yang paling penting adalah “seberapa jauh model-model pembelajaran tersebut mampu memfasilitasi peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang mencerminkan penguasaan suatu kompetensi yang dituntut kurikulum ?”
Kadar proses pembelajaran diamati dari aspek, (a) Adanya keterlibatan siswa baik secara fisik, mental, emosional, maupun intelektual dalam proses pembelajaran. Hal ini diamati dari tingginya motivasi siswa untuk menyelesaikan setiap tugas sesuai dengan waktu yang ditentukan; (b) Siswa belajar secara langsung, yaitu konsep dan prinsip dipelajari melalui pengalaman nyata, seperti mengalami sendiri atau kerja sama dalam kelompok; (c) Adanya keinginan siswa untuk menciptakan iklim belajar yang kondusif; (d) Keterlibatan siswa dalam mencari dan memanfaatkan sumber belajar; (e) Adanya keterlibatan siswa dalam melakukan prakarsa, seperti menjawab dan mengajukan pertanyaan, berusaha memecahkan masalah (mengerjakan soal) selama proses pembelajaran; dan (f) Terjadi interaksi multi-arah (keterlibatan semua siswa secara merata).
Kadar evaluasi pembelajaran diamati dan diukur dari aspek, (a) keterlibatan siswa dalam mengerjakan tugas-tugas, (b) kemauan siswa untuk menyusun laporan hasil belajar yang diperolehnya, dan (c) ketuntasan prestasi belajar siswa.
Berdasarkan makna esensial yang dikemukakan di atas, pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study bertujuan untuk menciptakan dan mengembangkan suatu model yang betul-betul peduli dan memperhatikan keterkaitan antara kemampuan siswa dengan pengalaman belajar atau secara khas dengan strategi pembelajaran kontekstual. Untuk mencapai tujuan tersebut, pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study berupaya menemukan dan memilih sejumlah metode yang akan dijadikan sebagai perlakuan yang tepat, yaitu perlakuan yang sesuai dengan perbedaan kemampuan siswa. Kemudian melalui suatu interaksi yang bersifat multiplikatif dikembangkan perlakuan-perlakuan tersebut dalam pembelajaran, sehingga akhirnya dapat diciptakan optimalisasi prestasi akademik.
Pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study memiliki sejumlah manfaat di antaranya: (1) mengatasi kelemahan pada pembelajaran klasikal maupun individual, (2) membantu menjadikan materi yang abtrak dan sulit mendapatkan contoh di lingkungan sekolah menjadi lebih konkrit, (3) memungkinkan pengulangan sampai berkali-kali tanpa rasa malu bagi yang berbuat salah, (4) mendukung pembelajaran individual, (5) lebih mengenal dan terbiasa dengan kerja tim tutor sebaya, (6) merupakan media pembelajaran yang efektif, (7) menciptakan pembelajaran yang “enjoyment” atau “joyful learning”.
Berdasarkan prinsip-prinsip yang dikemukakan di atas, dapat dimengerti bahwa dalam mengimplementasikan pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study, masalah pengelompokan dan pengaturan lingkungan serta tugas-tugas belajar bagi masing-masing karakteristik kemampuan siswa merupakan masalah mendasar yang harus mendapat perhatian peneliti. Berkaitan dengan kontekstual merupakan strategi yang berisikan sejumlah metode pembelajaran, maka metode instruksional yang digunakan dalam strategi ini adalah inquiry learning, discovery learning, problem solving learning, dan research-oriented learning yang dikemas dalam model project.
Pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study ini dapat dipakai guru untuk meningkatkan pemahaman konsep dan prestasi akademik siswa, baik secara perorangan maupun kelompok. Pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study dipandang sebagai proses pembelajaran yang aktif, sebab siswa akan lebih banyak belajar melalui proses pembentukan (constructing) dan penciptaan, kerja dalam kelompok dan berbagi pengetahuan, serta tanggung jawab individu tetap merupakan kunci keberhasilan pembelajaran.
Asumsi yang digunakan sebagai acuan dalam pengembangan pembelajaran ini, yaitu (1) untuk meningkatkan pemahaman konsep dan prestasi akademik siswa dapat ditempuh melalui pengembangan proses kreatif menuju suatu kesadaran dan pengembangan alat bantu yang secara eksplisit mendukung kreativitas, (2) komponen emosional lebih penting daripada intelektual, yang tak rasional lebih penting daripada yang rasional, dan (3) untuk meningkatkan peluang keberhasilan dalam memecahkan suatu masalah harus lebih dahulu memahami komponen emosional dan irrasional.
Semoga bermanfaat.
Melalui pengertian yang demikian, implementasi kurikulum memiliki posisi yang sangat menentukan bagi keberhasilan kurikulum sebagai rencana tertulis. Hasan (2000: 1) mengatakan "… jika kurikulum dalam bentuk rencana tertulis dilaksanakan maka kurikulum dalam bentuk proses adalah realisasi atau implementasi dari kurikulum sebagai rencana tertulis". Bisa jadi, dua orang guru yang sama-sama mengimplementasikan sebuah kurikulum (misal, kurikulum mata pelajaran matematika) akan diterima atau dikuasai anak secara berbeda bukan karena isi atau aspek-aspek kurikulumnya yang berbeda, tetapi lebih disebabkan perbedaan dalam implementasi kurikulum yang diupayakan guru tersebut.
Begitu urgennya posisi implementasi bagi terwujud atau tidaknya sebuah kurikulum, sangatlah tepat manakala persoalan implementasi kurikulum merupakan persoalan esensial di kalangan pengembang dan pelaksana kurikulum. Terlebih lagi jika sistem persekolahan yang ada lebih menekankan dimensi proses dari pada hasil belajar. Oleh karena itu, agar implementasi kurikulum dapat terwujud sesuai dengan kurikulum sebagai rencana tertulis, disarankan Hasan (2000: 1) agar terlebih dahulu memahami secara tepat tentang filsafat dan teori yang digunakan.
Ditegaskan oleh Sukmadinata (1988: 218) dengan mengatakan bahwa implementasi kurikulum hampir seluruhnya tergantung pada kreativitas, kecakapan, kesungguhan, dan ketekunan guru. Bagaimana kaitannya dengan kegiatan pembelajaran dalam implementasi KTSP? Mengacu pada asumsi bahwa kurikulum dan pembelajaran memiliki kaitan yang erat dan saling menunjang maka pembahasan mengenai pembelajaran dalam konteks implementasi KTSP tentu tidak bisa dilepaskan dari karakteristik KTSP. Oleh karena itu, apabila KTSP memiliki karakteristik utama yaitu human competence dan mastery learning, tentu saja model pembelajarannya haruslah mencerminkan dan berbasis pada dua karakteristik tersebut.
Selanjutnya, model pembelajaran manakah yang relevan dengan KTSP? Puskur Balitbang Depdiknas (2002) mengajukan karakteristik model pembelajaran yang relevan digunakan untuk implementasi KTSP yaitu model-model pembelajaran yang mampu mengkondisikan peserta didik meraih atau memperoleh sejumlah pengalaman belajar yang berupa; pengetahuan, ketrampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Berkaitan dengan itu, Saylor, dkk. (1981: 279) mengajukan rambu-rambu model-model pembelajaran yang relevan untuk implementasi KTSP, yaitu; desain sistem instruksional, pembelajaran berprograma, dan model pembelajaran latihan dan dril (practice and drill). Sementara itu, jika dikaitkan dengan klasifikasi model pembelajaran yang dikemukakan Joyce dan Weils (1992) maka rumpun model pembelajaran “sistem perilaku” dipandang relevan untuk implementasi KTSP, yang meliputi; belajar tuntas, pembelajaran langsung, belajar kontrol diri, latihan pengembangan konsep dan ketrampilan, dan latihan asersif.
Banyak model pembelajaran yang diasumsikan relevan untuk implementasi KTSP. Dalam hal ini yang paling penting adalah “seberapa jauh model-model pembelajaran tersebut mampu memfasilitasi peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang mencerminkan penguasaan suatu kompetensi yang dituntut kurikulum ?”
Kadar proses pembelajaran diamati dari aspek, (a) Adanya keterlibatan siswa baik secara fisik, mental, emosional, maupun intelektual dalam proses pembelajaran. Hal ini diamati dari tingginya motivasi siswa untuk menyelesaikan setiap tugas sesuai dengan waktu yang ditentukan; (b) Siswa belajar secara langsung, yaitu konsep dan prinsip dipelajari melalui pengalaman nyata, seperti mengalami sendiri atau kerja sama dalam kelompok; (c) Adanya keinginan siswa untuk menciptakan iklim belajar yang kondusif; (d) Keterlibatan siswa dalam mencari dan memanfaatkan sumber belajar; (e) Adanya keterlibatan siswa dalam melakukan prakarsa, seperti menjawab dan mengajukan pertanyaan, berusaha memecahkan masalah (mengerjakan soal) selama proses pembelajaran; dan (f) Terjadi interaksi multi-arah (keterlibatan semua siswa secara merata).
Kadar evaluasi pembelajaran diamati dan diukur dari aspek, (a) keterlibatan siswa dalam mengerjakan tugas-tugas, (b) kemauan siswa untuk menyusun laporan hasil belajar yang diperolehnya, dan (c) ketuntasan prestasi belajar siswa.
Berdasarkan makna esensial yang dikemukakan di atas, pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study bertujuan untuk menciptakan dan mengembangkan suatu model yang betul-betul peduli dan memperhatikan keterkaitan antara kemampuan siswa dengan pengalaman belajar atau secara khas dengan strategi pembelajaran kontekstual. Untuk mencapai tujuan tersebut, pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study berupaya menemukan dan memilih sejumlah metode yang akan dijadikan sebagai perlakuan yang tepat, yaitu perlakuan yang sesuai dengan perbedaan kemampuan siswa. Kemudian melalui suatu interaksi yang bersifat multiplikatif dikembangkan perlakuan-perlakuan tersebut dalam pembelajaran, sehingga akhirnya dapat diciptakan optimalisasi prestasi akademik.
Pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study memiliki sejumlah manfaat di antaranya: (1) mengatasi kelemahan pada pembelajaran klasikal maupun individual, (2) membantu menjadikan materi yang abtrak dan sulit mendapatkan contoh di lingkungan sekolah menjadi lebih konkrit, (3) memungkinkan pengulangan sampai berkali-kali tanpa rasa malu bagi yang berbuat salah, (4) mendukung pembelajaran individual, (5) lebih mengenal dan terbiasa dengan kerja tim tutor sebaya, (6) merupakan media pembelajaran yang efektif, (7) menciptakan pembelajaran yang “enjoyment” atau “joyful learning”.
Berdasarkan prinsip-prinsip yang dikemukakan di atas, dapat dimengerti bahwa dalam mengimplementasikan pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study, masalah pengelompokan dan pengaturan lingkungan serta tugas-tugas belajar bagi masing-masing karakteristik kemampuan siswa merupakan masalah mendasar yang harus mendapat perhatian peneliti. Berkaitan dengan kontekstual merupakan strategi yang berisikan sejumlah metode pembelajaran, maka metode instruksional yang digunakan dalam strategi ini adalah inquiry learning, discovery learning, problem solving learning, dan research-oriented learning yang dikemas dalam model project.
Pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study ini dapat dipakai guru untuk meningkatkan pemahaman konsep dan prestasi akademik siswa, baik secara perorangan maupun kelompok. Pembelajaran matematika kontekstual berbasis lesson study dipandang sebagai proses pembelajaran yang aktif, sebab siswa akan lebih banyak belajar melalui proses pembentukan (constructing) dan penciptaan, kerja dalam kelompok dan berbagi pengetahuan, serta tanggung jawab individu tetap merupakan kunci keberhasilan pembelajaran.
Asumsi yang digunakan sebagai acuan dalam pengembangan pembelajaran ini, yaitu (1) untuk meningkatkan pemahaman konsep dan prestasi akademik siswa dapat ditempuh melalui pengembangan proses kreatif menuju suatu kesadaran dan pengembangan alat bantu yang secara eksplisit mendukung kreativitas, (2) komponen emosional lebih penting daripada intelektual, yang tak rasional lebih penting daripada yang rasional, dan (3) untuk meningkatkan peluang keberhasilan dalam memecahkan suatu masalah harus lebih dahulu memahami komponen emosional dan irrasional.
Semoga bermanfaat.
09.00
SKS: 3
Semester: 1
Kalkulus-1
Written By Sutama on Jumat, 04 Januari 2013 | 09.00
Deskripsi MK
Mata kuliah Kalkulus I mendasari semua kelompok mata kuliah Analisis seperti: Kalkulus II, Kalkulus Lajut, Analisis Kompleks, Analisis Real, Analisis Vektor, Analisis Numerik, dan Persamaan Differensial. Namun demikian, untuk menguasai Kalkulus I perlu di dukung dari penguasaan mata kuliah lain seperti: Logika, Matematika Dasar dan Geometri Analitika (Datar). Materi pokok Kalkulus I terdiri atas: (1). Fungsi dan grafik: pengertian dan notasi fungsi, macam fungsi (aljabar, transenden, bentuk parameter, fungsi dalam koordinat polar). (2) Fungsi komposisi, fungsi invers, grafik dua fungsi invers satu terhadap yang lain. (3) Limit fungsi: pengertian limit fungsi, menghitung nilai limit bentuk aljabar, limit kiri dan limit kanan. (4) limit fungsi untuk x mendekati tak hingga, menghitung bilangan alam e, limit fungsi trigonometri. (5) Kontinuitas: definisi, diskontuitas. (6) Derivatif: cara penurunan fungsi, turunan fungsi aljabar (rumus baku), makna geometri fungsi turunan, (7) turunan fungsi komposisi, turunan fungsi implisit. (8) turunan fungsi trigonometri, turunan fungsi siklometri, (9) turunan fungsi logaritma dan eksponensial, (10) turunan fungsi bentuk parameter, turunan fungsi hiperbolik, (11) turunan fungsi invers fungsi hiperbolik, (12) Kelengkungan dan jari-jari kelengkungan: menentukan rumus kelengkungan, jari-jari kelengkungan, (13) pusat kelengkungan, (14) Teorema harga menengah
Kompetensi
Mahasiswa memahami cara-cara penurunkan fungsi dan dapat mengaplikasikan pada matakuliah lain maupun dalam kehidupan sehari-hari
Mata kuliah Kalkulus I mendasari semua kelompok mata kuliah Analisis seperti: Kalkulus II, Kalkulus Lajut, Analisis Kompleks, Analisis Real, Analisis Vektor, Analisis Numerik, dan Persamaan Differensial. Namun demikian, untuk menguasai Kalkulus I perlu di dukung dari penguasaan mata kuliah lain seperti: Logika, Matematika Dasar dan Geometri Analitika (Datar). Materi pokok Kalkulus I terdiri atas: (1). Fungsi dan grafik: pengertian dan notasi fungsi, macam fungsi (aljabar, transenden, bentuk parameter, fungsi dalam koordinat polar). (2) Fungsi komposisi, fungsi invers, grafik dua fungsi invers satu terhadap yang lain. (3) Limit fungsi: pengertian limit fungsi, menghitung nilai limit bentuk aljabar, limit kiri dan limit kanan. (4) limit fungsi untuk x mendekati tak hingga, menghitung bilangan alam e, limit fungsi trigonometri. (5) Kontinuitas: definisi, diskontuitas. (6) Derivatif: cara penurunan fungsi, turunan fungsi aljabar (rumus baku), makna geometri fungsi turunan, (7) turunan fungsi komposisi, turunan fungsi implisit. (8) turunan fungsi trigonometri, turunan fungsi siklometri, (9) turunan fungsi logaritma dan eksponensial, (10) turunan fungsi bentuk parameter, turunan fungsi hiperbolik, (11) turunan fungsi invers fungsi hiperbolik, (12) Kelengkungan dan jari-jari kelengkungan: menentukan rumus kelengkungan, jari-jari kelengkungan, (13) pusat kelengkungan, (14) Teorema harga menengah
Kompetensi
Mahasiswa memahami cara-cara penurunkan fungsi dan dapat mengaplikasikan pada matakuliah lain maupun dalam kehidupan sehari-hari
SKS: 3
Semester: 1
Label:
Materi Pembelajaran,
RMP,
Silabus dan RMP
04.15
A mathematical technique called “differential privacy” gives researchers access to vast repositories of personal data while meeting a high standard for privacy protection
In 1997, when Massachusetts began making health records of state employees available to medical researchers, the government removed patients’ names, addresses, and Social Security numbers. William Weld, then the governor, assured the public that identifying individual patients in the records would be impossible.
Within days, an envelope from a graduate student at the Massachusetts Institute of Technology arrived at Weld’s office. It contained the governor’s health records.
Although the state had removed all obvious identifiers, it had left each patient’s date of birth, sex and ZIP code. By cross-referencing this information with voter-registration records, Latanya Sweeney was able to pinpoint Weld’s records.
Sweeney’s work, along with other notable privacy breaches over the past 15 years, has raised questions about the security of supposedly anonymous information.
“We’ve learned that human intuition about what is private is not especially good,” said Frank McSherry of Microsoft Research Silicon Valley in Mountain View, Calif. “Computers are getting more and more sophisticated at pulling individual data out of things that a naive person might think are harmless.”
As awareness of these privacy concerns has grown, many organizations have clamped down on their sensitive data, uncertain about what, if anything, they can release without jeopardizing the privacy of individuals. But this attention to privacy has come at a price, cutting researchers off from vast repositories of potentially invaluable data.
Medical records, like those released by Massachusetts, could help reveal which genes increase the risk of developing diseases like Alzheimer’s, how to reduce medical errors in hospitals or what treatments are most effective against breast cancer. Government-held information from Census Bureau surveys and tax returns could help economists devise policies that best promote income equality or economic growth. And data from social media websites like Facebook and Twitter could offer sociologists an unprecedented look at how ordinary people go about their lives.
The question is: How do we get at these data without revealing private information? A body of work a decade in the making is now starting to offer a genuine solution.
“Differential privacy,” as the approach is called, allows for the release of data while meeting a high standard for privacy protection. A differentially private data release algorithm allows researchers to ask practically any question about a database of sensitive information and provides answers that have been “blurred” so that they reveal virtually nothing about any individual’s data — not even whether the individual was in the database in the first place.
“The idea is that if you allow your data to be used, you incur no additional risk,” said Cynthia Dwork of Microsoft Research Silicon Valley. Dwork introduced the concept of differential privacy in 2005, along with McSherry, Kobbi Nissim of Israel’s Ben-Gurion University and Adam Smith of Pennsylvania State University.
Differential privacy preserves “plausible deniability,” as Avrim Blum of Carnegie Mellon University likes to put it. “If I want to pretend that my private information is different from what it really is, I can,” he said. “The output of a differentially private mechanism is going to be almost exactly the same whether it includes the real me or the pretend me, so I can plausibly deny anything I want.
By Erica Klarreich and Simons Science News
Sumber:http://www.scientificamerican.com
Privacy by the Numbers: A New Approach to Safeguarding Data
![]() |
| Image: DARPA |
In 1997, when Massachusetts began making health records of state employees available to medical researchers, the government removed patients’ names, addresses, and Social Security numbers. William Weld, then the governor, assured the public that identifying individual patients in the records would be impossible.
Within days, an envelope from a graduate student at the Massachusetts Institute of Technology arrived at Weld’s office. It contained the governor’s health records.
Although the state had removed all obvious identifiers, it had left each patient’s date of birth, sex and ZIP code. By cross-referencing this information with voter-registration records, Latanya Sweeney was able to pinpoint Weld’s records.
Sweeney’s work, along with other notable privacy breaches over the past 15 years, has raised questions about the security of supposedly anonymous information.
“We’ve learned that human intuition about what is private is not especially good,” said Frank McSherry of Microsoft Research Silicon Valley in Mountain View, Calif. “Computers are getting more and more sophisticated at pulling individual data out of things that a naive person might think are harmless.”
As awareness of these privacy concerns has grown, many organizations have clamped down on their sensitive data, uncertain about what, if anything, they can release without jeopardizing the privacy of individuals. But this attention to privacy has come at a price, cutting researchers off from vast repositories of potentially invaluable data.
Medical records, like those released by Massachusetts, could help reveal which genes increase the risk of developing diseases like Alzheimer’s, how to reduce medical errors in hospitals or what treatments are most effective against breast cancer. Government-held information from Census Bureau surveys and tax returns could help economists devise policies that best promote income equality or economic growth. And data from social media websites like Facebook and Twitter could offer sociologists an unprecedented look at how ordinary people go about their lives.
The question is: How do we get at these data without revealing private information? A body of work a decade in the making is now starting to offer a genuine solution.
“Differential privacy,” as the approach is called, allows for the release of data while meeting a high standard for privacy protection. A differentially private data release algorithm allows researchers to ask practically any question about a database of sensitive information and provides answers that have been “blurred” so that they reveal virtually nothing about any individual’s data — not even whether the individual was in the database in the first place.
“The idea is that if you allow your data to be used, you incur no additional risk,” said Cynthia Dwork of Microsoft Research Silicon Valley. Dwork introduced the concept of differential privacy in 2005, along with McSherry, Kobbi Nissim of Israel’s Ben-Gurion University and Adam Smith of Pennsylvania State University.
Differential privacy preserves “plausible deniability,” as Avrim Blum of Carnegie Mellon University likes to put it. “If I want to pretend that my private information is different from what it really is, I can,” he said. “The output of a differentially private mechanism is going to be almost exactly the same whether it includes the real me or the pretend me, so I can plausibly deny anything I want.
By Erica Klarreich and Simons Science News
Sumber:http://www.scientificamerican.com
Label:
Materi Pembelajaran
04.08
Thurston, a Fields medalist who spent much of his career at Princeton and Cornell, had an uncanny ability to imagine the unimaginable: not just the shapes that live inside our ordinary three-dimensional space, but also the far vaster menagerie of shapes that involve such complicated twists and turns that they can only fit into higher-dimensional spaces. Where other mathematicians saw inchoate masses, Thurston saw structure: symmetries, surfaces, relationships between different shapes.
“Many people have an impression, based on years of schooling, that mathematics is an austere and formal subject concerned with complicated and ultimately confusing rules,” he wrote in 2009. “Good mathematics is quite opposite to this. Mathematics is an art of human understanding. … Mathematics sings when we feel it in our whole brain.”
At the core of Thurston’s vision was a marriage between two seemingly disparate ways of studying three-dimensional shapes: geometry, the familiar realm of angles, lengths, areas and volumes, and topology, which studies all the properties of a shape that don’t depend on precise geometric measurements — the properties that remain unchanged if the shape gets stretched and distorted like Silly Putty.
To a topologist, the surface of a frying pan is equivalent to that of a table, a pencil or a soccer ball; the surface of a coffee mug is equivalent to a doughnut surface, or torus. From a topologist’s point of view, the multiplicity of two-dimensional shapes — that is, surfaces — essentially boils down to a simple list of categories: sphere-like surfaces, toroidal surfaces, and surfaces like the torus but with more than one hole. (Most of us think of spheres and tori as three-dimensional, but because mathematicians think of them as hollow surfaces, they consider them two-dimensional objects, measured in terms of surface area, not volume.)
Thurston’s key insight was that it is in the union of geometry and topology that three-dimensional shapes, or “three-manifolds,” can be understood. Just as the topological category of “two-manifolds” containing the surfaces of a frying pan and a pencil also contains a perfect sphere, Thurston conjectured that many categories of three-manifolds contain one exemplar, a three-manifold whose geometry is so perfect, so uniform, so beautiful that, as Walter Neumann of Columbia University is fond of saying, it “rings like a bell.” What’s more, Thurston conjectured, shapes that don’t have such an exemplar can be carved up into chunks that do.
In a 1982 paper, Thurston set forth this “geometrization conjecture” as part of a group of 23 questions about three-manifolds that offered mathematicians a road map toward a thorough understanding of three-dimensional shapes. (His list had 24 questions, but one of them, still unresolved, is more of an intriguing side alley than a main thoroughfare.)
“Thurston had this enormous talent for asking the right questions,” said Vladimir Markovic, a mathematician at the California Institute of Technology. “Anyone can ask questions, but it’s rare for a question to lead to insight and beauty, the way Thurston’s questions always seemed to do.”
These questions inspired a new generation of mathematicians, dozens of whom chose to pursue their graduate studies under Thurston’s guidance. Thurston’s mathematical “children” manifest his style, wrote Richard Brown of Johns Hopkins University. “They seem to see mathematics the way a child views a carnival: full of wonder and joy, fascinated with each new discovery, and simply happy to be a part of the whole scene.”
In the decades after Thurston’s seminal paper appeared, mathematicians followed his road map, motivated less by possible applications than by a realization that three-manifolds occupy a sweet spot in the study of shapes. Two-dimensional shapes are a bit humdrum, easy to visualize and categorize. Four-, five- and higher-dimensional shapes are essentially untamable: the range of possibilities is so enormous that mathematicians have limited their ambitions to understanding specialized subclasses of them. For three-dimensional shapes, by contrast, the structures are mysterious and mind-boggling, but ultimately knowable.
Sumber: http://www.scientificamerican.com
Getting into Shapes: From Hyperbolic Geometry to Cube Complexes
Thurston, a Fields medalist who spent much of his career at Princeton and Cornell, had an uncanny ability to imagine the unimaginable: not just the shapes that live inside our ordinary three-dimensional space, but also the far vaster menagerie of shapes that involve such complicated twists and turns that they can only fit into higher-dimensional spaces. Where other mathematicians saw inchoate masses, Thurston saw structure: symmetries, surfaces, relationships between different shapes.
“Many people have an impression, based on years of schooling, that mathematics is an austere and formal subject concerned with complicated and ultimately confusing rules,” he wrote in 2009. “Good mathematics is quite opposite to this. Mathematics is an art of human understanding. … Mathematics sings when we feel it in our whole brain.”
At the core of Thurston’s vision was a marriage between two seemingly disparate ways of studying three-dimensional shapes: geometry, the familiar realm of angles, lengths, areas and volumes, and topology, which studies all the properties of a shape that don’t depend on precise geometric measurements — the properties that remain unchanged if the shape gets stretched and distorted like Silly Putty.
To a topologist, the surface of a frying pan is equivalent to that of a table, a pencil or a soccer ball; the surface of a coffee mug is equivalent to a doughnut surface, or torus. From a topologist’s point of view, the multiplicity of two-dimensional shapes — that is, surfaces — essentially boils down to a simple list of categories: sphere-like surfaces, toroidal surfaces, and surfaces like the torus but with more than one hole. (Most of us think of spheres and tori as three-dimensional, but because mathematicians think of them as hollow surfaces, they consider them two-dimensional objects, measured in terms of surface area, not volume.)
Thurston’s key insight was that it is in the union of geometry and topology that three-dimensional shapes, or “three-manifolds,” can be understood. Just as the topological category of “two-manifolds” containing the surfaces of a frying pan and a pencil also contains a perfect sphere, Thurston conjectured that many categories of three-manifolds contain one exemplar, a three-manifold whose geometry is so perfect, so uniform, so beautiful that, as Walter Neumann of Columbia University is fond of saying, it “rings like a bell.” What’s more, Thurston conjectured, shapes that don’t have such an exemplar can be carved up into chunks that do.
In a 1982 paper, Thurston set forth this “geometrization conjecture” as part of a group of 23 questions about three-manifolds that offered mathematicians a road map toward a thorough understanding of three-dimensional shapes. (His list had 24 questions, but one of them, still unresolved, is more of an intriguing side alley than a main thoroughfare.)
“Thurston had this enormous talent for asking the right questions,” said Vladimir Markovic, a mathematician at the California Institute of Technology. “Anyone can ask questions, but it’s rare for a question to lead to insight and beauty, the way Thurston’s questions always seemed to do.”
These questions inspired a new generation of mathematicians, dozens of whom chose to pursue their graduate studies under Thurston’s guidance. Thurston’s mathematical “children” manifest his style, wrote Richard Brown of Johns Hopkins University. “They seem to see mathematics the way a child views a carnival: full of wonder and joy, fascinated with each new discovery, and simply happy to be a part of the whole scene.”
In the decades after Thurston’s seminal paper appeared, mathematicians followed his road map, motivated less by possible applications than by a realization that three-manifolds occupy a sweet spot in the study of shapes. Two-dimensional shapes are a bit humdrum, easy to visualize and categorize. Four-, five- and higher-dimensional shapes are essentially untamable: the range of possibilities is so enormous that mathematicians have limited their ambitions to understanding specialized subclasses of them. For three-dimensional shapes, by contrast, the structures are mysterious and mind-boggling, but ultimately knowable.
Sumber: http://www.scientificamerican.com
Label:
Materi Pembelajaran
03.54
Rumus Heron dan Rumus Brahmagupta
Oleh : Sumardyono, M.Pd.
Topik luas bangun datar telah dipelajari sejak di Sekolah Dasar hingga SMA. Bila di SD, dipelajari luas segitiga dan beberapa bangun segiempat maka di SMP dipelajari lebih lanjut mengenai beberapa luas segiempat, sementara di SMA dipelajari luas sebarang bangun datar asalkan diketahui persamaan kurvanya lewat penggunaan prinsip dan aturan kalkulus. Dalam artikel sederhana ini, akan dibahas mengenai luas segitiga dan luas segiempat talibusur.
Apa yang dimaksud segibanyak tali busur? Segibanyak atau poligon disebut segibanyak tali busur bila semua titik sudut segibanyak tsb dapat ditempatkan pada sebuah lingkaran. Dengan kata lain, sisi-sisi segibanyak tsb dapat menjadi tali busur-tali busur sebuah lingkaran. Oleh karena itulah mengapa disebut segibanyak “tali busur”.
Download file
Sumber:http://p4tkmatematika.org
Topik luas bangun datar telah dipelajari sejak di Sekolah Dasar hingga SMA. Bila di SD, dipelajari luas segitiga dan beberapa bangun segiempat maka di SMP dipelajari lebih lanjut mengenai beberapa luas segiempat, sementara di SMA dipelajari luas sebarang bangun datar asalkan diketahui persamaan kurvanya lewat penggunaan prinsip dan aturan kalkulus. Dalam artikel sederhana ini, akan dibahas mengenai luas segitiga dan luas segiempat talibusur.
Apa yang dimaksud segibanyak tali busur? Segibanyak atau poligon disebut segibanyak tali busur bila semua titik sudut segibanyak tsb dapat ditempatkan pada sebuah lingkaran. Dengan kata lain, sisi-sisi segibanyak tsb dapat menjadi tali busur-tali busur sebuah lingkaran. Oleh karena itulah mengapa disebut segibanyak “tali busur”.
Download file
Sumber:http://p4tkmatematika.org
Label:
Materi Pembelajaran
22.11
Prosedur Penelitain
Written By Sutama on Kamis, 03 Januari 2013 | 22.11
Prosedur yang digunakan dalam penelitain ini, mengembangkan sebagaimana yang lazim digunakan dalam penelitian dengan menggunakan siklus (cycle). Dalam penelitian tindakan kelas ini terdiri dari tiga siklus, setiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan ke arah peningkatan dan perbaikan proses dalam mengajar. Sebelum tahap- tahap dilaksanakan dalam peneltian yang menggunakan siklus- siklus terlebih dahulu dilakukan studi kelayakan sebagai penelitain pendahuluan dengan tujuan untuk meningkatkan perbaikan dalam mengajar. Mengidentifikasi permasalahan dan gagasan yang tetap sesuai dengan masalah dalam pengembangan pembelajaran yang ada di kelas. Dalam kegiatan ini peneliti dan guru secara langsung sudah melibatkan diri untuk aktif dan kreatif dalam rangkaian kegiatan yang ada di sekolah.
Model siklus yang digunakan berbentuk spiral sebagimana dikembangkan oleh kemmis dan Taggart (Kasbolah, 1998/1999: 14) yaitu merupakan momen- momen dalam bentuk spiral yang meliputi : perencanaan (plan), tindakan (act), pengamatan (observe) dan refleksi (reflect). Kemudian pada siklus kedua dan seterusnya jenis kegiatan yang dilakukan peneliti pada dasarnya sama, tetapi ada modifikasi pada tahap perencanaan.
Siklus kegiatan dapat digambarkan sebagai berikut.
Secara operasional tahapan- tahapan kegiatan penelitain dalam setiap siklus dapat dijelaskan sebagi berikut :
1.Tahap Perencanaan
Kegiatan perencanaan diawali dengan merencanakan ide penelitian kemudian ditindak lanjuti dengan observasi pelaksanaan pembelajaran di kelas. Data awal diperoleh dari hasil evaluasi mata pelajran matematika yang sudah terdekomentasikan dalam daftar nilai siswa dan dari hasil pengamatan lansung dalam setiap pembelajaran matematika. Hal ini membantu peneliti dalam menentukan kelmahan dan hambatan siswa dalam belajar matematika yang selanjutnya difokuskan pada strategi penemuan pada geometri yang dijadikan bahan bagi peneliti.
2. Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap ini, peneliti melaksankan tindakan sesuai dengan perncanan yagn telah dirumuskan. Dengan alat pengumpul data yang telah disusun, tim observasi mencermati jalannya pembelajaran berlangsung secara wajar. Bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilaksanakan guru dan peningkataan hasil belajar siswa.
3. Tahap Observasi
Tahap observasi dilakukan peneliti dengan menggunakan pedoman observasi yang telah disiapkan sebelumnya. Observasi merupakan teknik pengumpulan data dalam penelitain tindakan kelas yaitu mengamati segala sesuatu yang berlansung saat proses pembelajaran untuk melakukan refleksi dan revisi terhadap rencana tindakan yang telah dilakukan untuk menyusun rencana berikutnya.
4. Tahap Refleksi
Hasil penemuan pada pelaksanaan kegiatan pembelajaran ditindaklanjuti dengan kegiatan refleksi. Refleksi merupakan kegiatan analitis sintetis, interpretasi dan ekspanasi (penjelasan) terhadap semua informasi yang diperoleh dari pelaksanaan tindakan. Refleksi merupakan bagian yang sangat penting untuk memahami dan mencari makna terhadap proses dan pelaksanaan tindakan sebagai dampak adanya intervensi tindakan yang dilaksanakan.
C. Lokasi dan Subjek Penelitian
Pelaksanan tindakan kelas (PTK) di SDN I Ciseureh Kecamatan Purwakarta Kabupaten Purwakarta, penelitian tindakan ini dilaksanakan untuk memudahkan koordinasi dengan peneliti, guru dan kepala sekolah karena sebagai tempat tugas. Sampel yang diteliti yaitu siswa- siswi kelas V SD Negeri I Ciseureh Purwakarta, pada semester II tahun ajaran 2006- 2007 yang berjumlah 27 siswa, yang terdiri dari 18 orang siswa laki- laki dan 9 orang siswa perempuan.
Dengan dipilihnya sekolah ini untuk penelitain karena dengan beberapa pertimbangn yang diambil yaitu, sebagai berikut :
1. sebagai tempat mengajar, sehingga peneliti dengan guru dan siswa sudah saling mengenal tetapi peneliti tidak lalai dalam melaksanakan tugas dan tidak semata- mata hanya sebagai tempat penelitian.
2. adanya anggapan bahwa pelajran matematika adalah pelajaran yang membosankan, serta dengan rendahnya nilai matematika pada akhir semester satu.
3. Letak sekolah dekat dengan tempat tinggal peneliti yang jarkanya kurang lebih 500 meter, dan merasa tanggung jawab secara moril untuk meningkatkan kualitas pembelajran matematika.
Sebagai subjek peneliti dengan kinerja guru dan aktivitas belajar peserta didik, dalam pembelajran matematika dengan mengugnakan metode penemuan.
Karakteristik dari subjek peneliti adalah sebagai berikut :
1. Letak geografis sekolah sangat starategis tidak jauh dari kota sekitar km jaraknya, juga dekat dengan pemukiman penduduk.
2. Kondisi sosial ekonomi siswa rata- rata menengah ke bawah.
3. Kualifikasi pendidikan guru dari …………………guru kulifikasi pendidikannya SPG, DII, S1, sehingga penelitain ini dapat dilaksanaakn prestasi belajar dengan perolehan nilai UAS nilainya masih rendah.
D. Metode Pengumpulan Data
Untuk megetahui hasil, ketika hasil proses pelaksanaan tindakan dilakukan, maka diguankan instrumen penelitian untuk mengumpulkan data diantaranya:
a. Observasi
Yaitu alat pengumpul data yang digunakan untuk mengamati tingkah laku individu baik sisiwa atau para gurunya selama proses pembelaran berlangsung.
Data yang ingin di jaring melalui lembar observasi adalah data yang berupa perkataan dan aktifitas yaitu komunikasi interaktif antarguru. Kegiatannya menyangkut proses pembelajaran matematika serta temuan- temuan pada saat diskusi kolaboratif dengan guru mitra dan guru teman sejawat setelah pembelajaran.
b. Angket
Pembuatan angket ini bertujuan untuk mengetahui, menjaring data yang telah valid (absah) dan reliable (dapat dipercaya) mengenai tanggapan sisiwa, pendapat guru mitra penelitian, guru teman sejawatdan kepala sekolah
c. Tes Hasil Belajar
Adalah serentetan latihan soal yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pegetahuan, sikap, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.
Model siklus yang digunakan berbentuk spiral sebagimana dikembangkan oleh kemmis dan Taggart (Kasbolah, 1998/1999: 14) yaitu merupakan momen- momen dalam bentuk spiral yang meliputi : perencanaan (plan), tindakan (act), pengamatan (observe) dan refleksi (reflect). Kemudian pada siklus kedua dan seterusnya jenis kegiatan yang dilakukan peneliti pada dasarnya sama, tetapi ada modifikasi pada tahap perencanaan.
Siklus kegiatan dapat digambarkan sebagai berikut.
Secara operasional tahapan- tahapan kegiatan penelitain dalam setiap siklus dapat dijelaskan sebagi berikut :
1.Tahap Perencanaan
Kegiatan perencanaan diawali dengan merencanakan ide penelitian kemudian ditindak lanjuti dengan observasi pelaksanaan pembelajaran di kelas. Data awal diperoleh dari hasil evaluasi mata pelajran matematika yang sudah terdekomentasikan dalam daftar nilai siswa dan dari hasil pengamatan lansung dalam setiap pembelajaran matematika. Hal ini membantu peneliti dalam menentukan kelmahan dan hambatan siswa dalam belajar matematika yang selanjutnya difokuskan pada strategi penemuan pada geometri yang dijadikan bahan bagi peneliti.
2. Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap ini, peneliti melaksankan tindakan sesuai dengan perncanan yagn telah dirumuskan. Dengan alat pengumpul data yang telah disusun, tim observasi mencermati jalannya pembelajaran berlangsung secara wajar. Bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilaksanakan guru dan peningkataan hasil belajar siswa.
3. Tahap Observasi
Tahap observasi dilakukan peneliti dengan menggunakan pedoman observasi yang telah disiapkan sebelumnya. Observasi merupakan teknik pengumpulan data dalam penelitain tindakan kelas yaitu mengamati segala sesuatu yang berlansung saat proses pembelajaran untuk melakukan refleksi dan revisi terhadap rencana tindakan yang telah dilakukan untuk menyusun rencana berikutnya.
4. Tahap Refleksi
Hasil penemuan pada pelaksanaan kegiatan pembelajaran ditindaklanjuti dengan kegiatan refleksi. Refleksi merupakan kegiatan analitis sintetis, interpretasi dan ekspanasi (penjelasan) terhadap semua informasi yang diperoleh dari pelaksanaan tindakan. Refleksi merupakan bagian yang sangat penting untuk memahami dan mencari makna terhadap proses dan pelaksanaan tindakan sebagai dampak adanya intervensi tindakan yang dilaksanakan.
C. Lokasi dan Subjek Penelitian
Pelaksanan tindakan kelas (PTK) di SDN I Ciseureh Kecamatan Purwakarta Kabupaten Purwakarta, penelitian tindakan ini dilaksanakan untuk memudahkan koordinasi dengan peneliti, guru dan kepala sekolah karena sebagai tempat tugas. Sampel yang diteliti yaitu siswa- siswi kelas V SD Negeri I Ciseureh Purwakarta, pada semester II tahun ajaran 2006- 2007 yang berjumlah 27 siswa, yang terdiri dari 18 orang siswa laki- laki dan 9 orang siswa perempuan.
Dengan dipilihnya sekolah ini untuk penelitain karena dengan beberapa pertimbangn yang diambil yaitu, sebagai berikut :
1. sebagai tempat mengajar, sehingga peneliti dengan guru dan siswa sudah saling mengenal tetapi peneliti tidak lalai dalam melaksanakan tugas dan tidak semata- mata hanya sebagai tempat penelitian.
2. adanya anggapan bahwa pelajran matematika adalah pelajaran yang membosankan, serta dengan rendahnya nilai matematika pada akhir semester satu.
3. Letak sekolah dekat dengan tempat tinggal peneliti yang jarkanya kurang lebih 500 meter, dan merasa tanggung jawab secara moril untuk meningkatkan kualitas pembelajran matematika.
Sebagai subjek peneliti dengan kinerja guru dan aktivitas belajar peserta didik, dalam pembelajran matematika dengan mengugnakan metode penemuan.
Karakteristik dari subjek peneliti adalah sebagai berikut :
1. Letak geografis sekolah sangat starategis tidak jauh dari kota sekitar km jaraknya, juga dekat dengan pemukiman penduduk.
2. Kondisi sosial ekonomi siswa rata- rata menengah ke bawah.
3. Kualifikasi pendidikan guru dari …………………guru kulifikasi pendidikannya SPG, DII, S1, sehingga penelitain ini dapat dilaksanaakn prestasi belajar dengan perolehan nilai UAS nilainya masih rendah.
D. Metode Pengumpulan Data
Untuk megetahui hasil, ketika hasil proses pelaksanaan tindakan dilakukan, maka diguankan instrumen penelitian untuk mengumpulkan data diantaranya:
a. Observasi
Yaitu alat pengumpul data yang digunakan untuk mengamati tingkah laku individu baik sisiwa atau para gurunya selama proses pembelaran berlangsung.
Data yang ingin di jaring melalui lembar observasi adalah data yang berupa perkataan dan aktifitas yaitu komunikasi interaktif antarguru. Kegiatannya menyangkut proses pembelajaran matematika serta temuan- temuan pada saat diskusi kolaboratif dengan guru mitra dan guru teman sejawat setelah pembelajaran.
b. Angket
Pembuatan angket ini bertujuan untuk mengetahui, menjaring data yang telah valid (absah) dan reliable (dapat dipercaya) mengenai tanggapan sisiwa, pendapat guru mitra penelitian, guru teman sejawatdan kepala sekolah
c. Tes Hasil Belajar
Adalah serentetan latihan soal yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pegetahuan, sikap, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.
Semoga bermanfaat.
10.10

Kerjasama Pendidikan RI & Kerajaan Inggris
Pada kesempatan Kunjungan Kenegaraan
Presiden SBY ke Inggris dan pertemuan beliau dengan Perdana Menteri
David Cameron, beberapa dokumen kerjasama pendidikan berikut telah
ditandatangani, yang melambangkan penguatan hubungan bilateral kedua
negara.
Beberapa poin penting yang disepakati antara lain pembentukan program
beasiswa antara Dikti Indonesia dengan pemerintah Kerajaan Inggris,
promosi studi di Indonesia yang merupakan kerja sama dengan Oxford
University, serta memorandum saling pengertian antara beberapa perguruan
tinggi terkemuka di Indonesia.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Universitas Muhammadiyah Surakarta bekerja sama dengan The University of Nottingham dalam "Program Pasca Sarjana dan Doktoral Terpadu dalam Bidang Desain Bahan". Ini adalah salah satu langkah nyata UMS dalam mewujudkan program Go International.
Sementara perguruan tinggi lain yang turut bekerja sama adalah Newcastle University dan Universitas Indonesia dalam "Pembentukan Pusat Pelatihan Dokter Newcastle University-Universitas Indonesia (NUUIDTC) dalam Bidang Obat-obatan, Gigi, Ilmu Biomedis, Ilmu Kehidupan dan Nutrisi", Cranfield University dan Institut Teknologi Bandung dalam "Program Gelar Ganda (Double-Degree) pada Tingkat Pasca Sarjana dalam Bidang Teknik dan Teknologi", Northumbria University dan Universitas Bina Nusantara dalam "3 Program Baru pada Tingkat Sarjana dalam Bidang Desain Interior, Desain Industri dan Desain Media Interaktif", University of Southampton dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember dalam "Bekerjasama dalam Bidang Pengajaran dan Penelitian, serta Pengembangan Pertukaran Akademis", serta The Open University dan Universitas Terbuka dalam "Kolaborasi dalam Bidang Penjaminan Kualitas, Pengembangan Kurikulum dan Penelitian Pedagogi".
Penandatanganan dokumen-dokumen kerjasama tersebut sebagai sebuah bentuk pengakuan atas semakin luas dan eratnya kerjasama pendidikan dan keterampilan antara Indonesia dan Kerajaan Inggris. Kerja sama kedepan dalam berbagai bidang seperti berbagi pengalaman terbaik dalam pendidikan kejuruan dan pelatihan, pelatihan guru/kepemimpinan, penjaminan kualitas dan pengembangan kurikulum.
Willetts signs UK-Indonesia agreement
UK-Indonesian partnerships agreed
Sumber :http://www.ums.ac.id/Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Universitas Muhammadiyah Surakarta bekerja sama dengan The University of Nottingham dalam "Program Pasca Sarjana dan Doktoral Terpadu dalam Bidang Desain Bahan". Ini adalah salah satu langkah nyata UMS dalam mewujudkan program Go International.
Sementara perguruan tinggi lain yang turut bekerja sama adalah Newcastle University dan Universitas Indonesia dalam "Pembentukan Pusat Pelatihan Dokter Newcastle University-Universitas Indonesia (NUUIDTC) dalam Bidang Obat-obatan, Gigi, Ilmu Biomedis, Ilmu Kehidupan dan Nutrisi", Cranfield University dan Institut Teknologi Bandung dalam "Program Gelar Ganda (Double-Degree) pada Tingkat Pasca Sarjana dalam Bidang Teknik dan Teknologi", Northumbria University dan Universitas Bina Nusantara dalam "3 Program Baru pada Tingkat Sarjana dalam Bidang Desain Interior, Desain Industri dan Desain Media Interaktif", University of Southampton dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember dalam "Bekerjasama dalam Bidang Pengajaran dan Penelitian, serta Pengembangan Pertukaran Akademis", serta The Open University dan Universitas Terbuka dalam "Kolaborasi dalam Bidang Penjaminan Kualitas, Pengembangan Kurikulum dan Penelitian Pedagogi".
Penandatanganan dokumen-dokumen kerjasama tersebut sebagai sebuah bentuk pengakuan atas semakin luas dan eratnya kerjasama pendidikan dan keterampilan antara Indonesia dan Kerajaan Inggris. Kerja sama kedepan dalam berbagai bidang seperti berbagi pengalaman terbaik dalam pendidikan kejuruan dan pelatihan, pelatihan guru/kepemimpinan, penjaminan kualitas dan pengembangan kurikulum.
Willetts signs UK-Indonesia agreement
UK-Indonesian partnerships agreed
Label:
Artikel,
Berita,
Materi Pembelajaran,
Penelitian,
Penelitian Tindakan,
Pengumuman,
RMP,
Silabus










